Connect with us

Biovids

Sang Maestro Keroncong, Waldjinah Si Ratu Kembang Kacang

mm

Published

Sang Maestro Keroncong, Waldjinah Si Ratu Kembang KacangDi dunia musik keroncong, Waldjinah memang belum ada tandingannya. Penyanyi keroncong generasi sesudahnya boleh datang, namun tampaknya belum bisa menggeser...
Sumber Video

Di dunia musik keroncong, Waldjinah memang belum ada tandingannya. Penyanyi keroncong generasi sesudahnya boleh datang, namun tampaknya belum bisa menggeser namanya. Tidak hanya di dalam negeri, Waldjinah juga dikenal di luar negeri, terutama Jepang. Ia telah menyanyikan ratusan lagu, selama lebih dari 20 tahun sebagai penyanyi.

Bungsu dari sepuluh bersaudara ini berasal dari keluarga tidak mampu. Ayahnya, Wiryo Rahardjo, yang asli Solo, Jawa Tengah, bekerja sebagai buruh batik. Bakat menyanyi Waldjinah sudah terlihat sejak kecil.

Ketika duduk di bangku SD, Waldjinah adalah wakil tetap sekolah dalam perlombaan menyanyi. Pada umur 12 tahun (1958), Waldjinah memenangi lomba Ratu Kebon Kacang, sebuah ajang lomba menyanyi keroncong bergengsi di Solo.

Dari ajang itulah julukan “Ratu kembang Kacang” melekat pada dirinya. Sejak itu, Waldjinah keterusan ikut kontes menyanyi. Puncaknya pada tahun 1965, ketika dia menjadi menjuarai Bintang Radio se-Indonesia. Tidak hanya mendapat tropy, Waldjinah pun berkesempatan bertemu langsung dengan proklamator Soekarno.

Pada kisaran tahun 1968-1969, langgam Jawa Yen Ing Tawang Ana Lintang, Cah Ayu, ciptaan Andjar Any yang dia nyanyikan melambungkan namanya. Pada era yang sama, Walang Kekek pun ikut meledak.

Sumber: soloraya.com