Connect with us
mm

Published

on

Penggunaan yang tidak bertanggung jawab dari media sosial tanpa disadari dapat membahayakan personil militer Philipina yang bertempur di garis depan di kota yang terkepung dari Marawi.

Live streaming dan posting ke jejaring sosial dari warga sipil dan media mainstream ketika angkatan bersenjata melakukan operasi mereka di kota dapat menimbulkan risiko operasional yang membahayakan bagi para prajurit yang terlibat dalam pertempuran, kata juru bicara militer Letnan Kolonel Jo-ar Herrera.


Herreramenambahkan bahwa para ekstrimis telah memanfaatkan informasi dari media sosial  untuk mendapatkan keuntungan tempur di garis depan.

“Mereka akan memanfaatkan informasi dari media-media sosial untuk mengamati dan memanfaatkan lokasi pertempuran yang diunggah di media sosial,” kata Herrera.

Tim dari wartawan telah memantau konflik dari markas ibukota provinsi di Marawi. Tentu, media sosial telah menjadi alat yang penting untuk mentransmisi informasi tentang perkembangan terkini dari situasi di Marawi.

“Kalian tahu, para militan ISIS sangat jago memanfaatkan informasi media sosial. Dan mereka pandai memanfaatkannya. Mereka dengan mudah mendapatkan informasi penting tentang keberadaan personil militer kita dengan tepat, gara-gara unggahan posisi personil militer kita di media sosial kalian, ” ujar reporter freelance, Ferdinandsen Cabrera mengingatkan rekan-rekan persnya.

Media Sosial Sebagai Alat Propaganda Ampuh ISIS

“Harusnya ada rasa tanggung jawab. Tapi tentu saja Anda masih dapat mengirim foto-foto sebagai bagian dari pekerjaan kita, namun dimohon bertanggungjawab dan sangat berhati-hati, karena dapat juga mereka manfaatkan sebagai alat propaganda,” Lanjut Ferdinandsen Cabrera.

Pemerintah dan tentara telah mencoba untuk memerangi aliran propaganda online yang mereka lakukan untuk mendapatkan dukungan masyarakat, baik lokal maupun internasional.

Pada hari-hari awal pengepungan, media sosial dibanjiri dengan gambar bendera hitam yang melambai di jalan-jalan Marawi dan kemudian direspon oleh militer. Konten dapat dengan cepat menjadi viral dan dapat dengan mudah menggeser sentimen publik, kata Herrera.

“Media sosial Pada dasarnya mereka manfaatkan dengan baik dalam peperangan untuk bisa mendapatkan dukungan, untuk bisa mendapatkan lebih banyak simpatisan dan tentu saja untuk bisa mendapatkan lebih banyak dana dari organisasi teroris asing,” kata Herrera.

ISIS dikenal sangat getol memanfaatkan Internet untuk menyebarkan propagandanya dan menunjukkan bukti eksistensi mereka di seluruh dunia. Majalah Online mereka secara ekstensif menampilkan keberhasilan mereka dalam konflik Marawi dalam beberapa pekan terakhir.

Sumber: Channel News Asia

Advertisement
Click to comment
KOMENTAR ANDA
Jejaring.net tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana yang diatur dalam UU ITE.