Connect with us

Opini

Friksi Yang Tidak Harus Terjadi, Pabrik Semen VS Komunitas Samin

mm

Published

on

Friksi Yang Tidak Harus Terjadi, Pabrik Semen VS Komunitas SaminFilm ini memang film lama (tahun 2015 yang lalu), yang dibuat oleh Watch Dog Image, dalam salah satu episode dari...

Film ini memang film lama (tahun 2015 yang lalu), yang dibuat oleh Watch Dog Image, dalam salah satu episode dari “Ekspedisi Indonesia Biru”. Dalam film dokumenter tersebut digambarkan seolah ada friksi yang luar baisa antara Pabrik Semen VS Komunitas Samin. Friksi yang seharusnya tidak harus terjadi.

Niat pemerintah untuk mengantisipasi membanjirnya keran impor semen memang suatu niatan yang bagus, namun melindungi harkat hidup masyarakat sekitar pabrik juga jangan pernah terabaikan. Pembangunan apapun, dengan niatan apapun juga jikalau tidak menghasilkan dampak positif jangka panjang bagi masyarakat sekitar juga susuatu yang muspro dan ngoyoworo. Dilain sisi, masyarakat juga tidak harus anti pembangunan jikalau memang pembangunan tersebut dalam jangka panjang akan mensejahterakan mereka.


Selain itu, pembangunan dengan motivasi apapun juga harus dapat menjamin kelestarian lingkungan disekitar area pembangunan. Apalagi, berdasarkan berbagai studi, Gunung Kendeng adalah daerah Cekungan Air Tanah (CAT) yang menjadi pasokan jangka panjang bagi ketersediaan air diwilayah Gunung Kendeng dan sekitarnya.

Masalahnya bagi saya adalah, mengapa membawa-bawa nama komunitas Samin yang notabene sangat kecil kemungkinannya untuk menjadi komunitas yang cukup banyak tinggal di Daerah sekitar Gunem, Rembang. Kalau di daerah Blora, Pati, Bojonegoro, Jatirogo, Kudus mungkin banyak komunitasnya.

Masalah lainnya adalah ketika judul Film nya adalah “Semen VS Samin”. Seolah-olah meletakkan posisi berhadap-hadapan antara pabrik Semen dengan masyarakat Samin, yang notabene sangat jarang di daerah Rembang. Kalau alasannya murni demi menjaga lingkungan (mempertahankan CAT) dan budaya saya sangat setuju.

Akhirnya muncul film tandingan yang seolah sebagian masyarakat dan pemuka Samin mengecam tindakan sekelompok orang yang mengatasnamakan Komunitas Samin. Ini juga sangat disayangkan, karena akan mempolarisasi masyarakat Samin yang sebenarnya cinta damai, dan sangat kecil kemungkinannya untuk hobi berdemo.

Dalam sejarah perlawanannya terhadap penjajah, Samin Surosentiko yang mengajarkan “sedulur sikep”, merrepresentasikan sikap lurus yang sangat lugu, mengutamakan kejujuran dan anti terhadap sikap-sikap permusuhan.

Dalam video tersebut memang ada penggalan video yang menunjukkan sebagian masyarakat Tegaldowo yang melakukan demo penolakan pabrik Semen. Apakah mereka benar-benar merupakan komunitas Samin? Entahlah.

Jikalau demonya murni demi menjaga kelestarian alam sekitar Tegaldowo saya sepakat. Apalagi Rembang adalah daerah yang notabene adalah daerah kering dan sangat miskin pasokan air. Kalau alasannya selain itu, ya itu yang saya kurang sepakat.

Kalau gunung dipapras ya jelas kantong-kantong airnya akan musnah dalam jangka panjang. Apakah akan terpecahkan hanya dengan pembangunan embung-embung? Ya jelas sangat tidak mungkin lah. Kantong-Kantong Air (Cekungan Ar Tanah) tersebut itu adalah anugerah alam, yang sangat kecil kemungkinannya untuk digantikan dengan teknologi apapun buatan manusia.

Advertisement
Click to comment
KOMENTAR ANDA
Jejaring.net tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana yang diatur dalam UU ITE.
Advertisement