Connect with us
mm

Published

on

”Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.” (Q. S. 2: 216).

Saya sendiri selalu mengingat ayat ini. Ayat yang membuat saya untuk selalu berusaha jangan sampai membenci seseorang tanpa sebab. Apalagi sekedar membenci seseorang gara-gara menjaga perkoncoan biar kelihatan solider.


Padahal, para konco kita belum tentu dalam posisi yang fair dan benar. Bahkan seringkali konco-konco kita melakukan pembenaran dan mencari-cari bukti pendukung sangat tendensius yang digunakan untuk memperkuat simpulan mereka tersebut bahwa si X memang layak untuk dibenci.

Stigma terhadap seseorang yang dikemas sedemikian rupa dan kemudian banyak diamini tanpa sebab oleh kita tersebut cenderung sangat bias. Dampaknya, jelas kita telah ikut-ikutan menghakimi seseorang yang belum tentu bersalah. Ikut-ikutan menganiaya dan membunuh karakternya, sementara kita sendiri belum pernah dirugikan dalam bentuk apapun oleh si X.

Kita ini seharusnya menjadi orang-orang yang rasional seiring dengan tingkat pendidikan yang kita miliki. Mampu menggunakan nalar dengan baik, mampu menelaah ataupun menganalisis masalah dengan jeli, dan mampu membuat simpulan dengan jernih. Lha wong Allah saja memerintahkan hal itu kok:

“….Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS az-zumar (39) ayat : 9)

Selama belum ada bukti pendukung yang valid, selama belum ada hipotesis yang kuat, serta selama belum ada mekanisme analisa yang memadai, ya jangan serta-merta memberikan penilaian terhadap orang lain secara gegabah. Itu justru akan menjebak kita untuk membuka front perselisihan dengan si X yang belum tentu bersalah dan belum tentu berniat buruk pada kita.

Dalam agama yang kita yakini ada konsep bagus yang bernama Tabbayun. Konsep ini dibuat oleh Sang Maha Penguasa Ilmu bukan sekedar untuk dihapalkan dan dilafadzkan dengan lancar dibibir kita, namun harus diresapi dan dijadikan pedoman utama ketika memutuskan sesuatu. Lha wong jelas Allah sendiri berfirman bahwa:

” Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (QS 49:6) 

Ya sudahlah, kita nggak perlu bahas terlalu dalam. nanti Saya dikira Ustadz, khan repot. Padahal saya hanya sedikit tahu tentang agama. Itupun hanya sepotong-sepotong. Walaupun masih dalam kategori cethek ilmu, Saya hanya berusaha mengingatkan dan berharap semoga kita tidak termasuk kepada golongan orang-orang yang mudah berburuk sangka, pembenci tanpa sebab ataupun pemberi informasi yang fasik.

Advertisement
Click to comment
KOMENTAR ANDA
Jejaring.net tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana yang diatur dalam UU ITE.