Connect with us
mm

Published

on

Namanya saja universitas riset, jelas harusnya memiliki temuan-temuan riset yang fantastis.Universitas bersangkutan harus bisa dijadikan contoh sebagai pusatnya pengembangan ilmu pengetahuan. Lebih lanjut, namanya juga pusat pengembangan ilmu pengetahuan, ya harus mampu menciptakan inovasi-inovasi baru maupun teori-teori baru \”yang secara riil bermanfaat bagi kemanusiaan\”. 


Jadi, didalam slogan \”Universitas riset (Research University)\” itu ada beban nama yang sangat berat dan harus dapat dipertanggungjawabkan. Bukan sekedar jargon, utopia ataupun slogan gagah-gagahan yang digunakan untuk memasarkan perguruan tinggi bersangkutan.

Menurut saya, ada tujuh hal sangat berat yang perlu digarisbawahi agar bisa mencapai tataran \”Universitas riset (Research University)\”.

Pertama, para dosen yang mengajar terdiri dari peneliti top. Ukuran peneliti top disini bukan karena gelarnya Doktor ataupun Profesor, namun merupakan peneliti top yang banyak diakui kemampuan dan temuan-temuan risetnya secara riil oleh masyarakat ilmiah.  Langkah pertama ini bukanlah hal yang mudah, namun juga amat sulit untuk ditemukan di lingkungan kita.

Kedua, budaya riset pada perguruan tinggi bersangkutan memang sudah meresap dan mendarah daging pada keseluruhan civitas akademika. Di dalam kelas, mereka harus bisa menginkorporasi temuan-temuan riset unggulan terbaru yang mereka temukan sebelumnya ataupun yang telah ditemukan orang lain untuk mencoba mengeksplorasi kemungkinan temuan riset baru di masa depan. 

Ketiga, perguruan tinggi bersangkutan telah memiliki fasilitas \”State of the Art\” yang memadai demi menunjang dinamika riset dilingkungannya. hal ini memerlukan investasi perpustakaan, laboratorium serta prasarana pendukung riset lainnya yang sangat besar. Inipun bukanlah hal yang mudah, apalagi untuk perguruan tinggi di negara kita.

Keempat, Para pengajar pada perguruan tinggi bersangkutan adalah individu-individu yang sudah terbebas dari kendala finansial. Mereka sudah tidak lagi disibukkan untuk mencari-cari proyek pendukung mengebulnya periuk nasi. Sudah bukan lagi dosen bertipe pengamen yang harus mengajar dimana-mana demi sesuap nasi.

Kelima, dukungan dana riset harus memadai baik yang bersumber dari internal maupun eksternal organisasi. Sementara pada kenyataannya, dukungan dana riset dari negarapun kurang dari cukup, apalagi sumber dana penelitian dari internal yang juga belum tentu memadai bahkan belum tentu ada.

Keenam, dukungan kebijakan pimpinan perguruan tinggi yang mampu mengejawantahkan filosofi \”Universitas riset (Research University)\” yang dapat diterapkan dalam tataran praktis. Sekali lagi, bukan hanya kemasan kebijakan, namun riil dapat diidentifikasi langkah nyatanya dalam mengejawantahkan \”Universitas riset (Research University)\”.

Ketujuh, perguruan tinggi harus memiliki jaringan organisasi publikasi riset papan atas yang luas. Hal ini sangat perlu untuk digarisbawahi karena tanpa publikasi riset kelas atas yang masif, sangat mustahil hasil riset dapat dikenali oleh masyarakat ilmiah yang ada di muka bumi.

 

Pertanyaannya, apakah perguruan tinggi-perguruan tinggi di negara kita telah memiliki sunberdaya dan mampu mencapai tataran \”Universitas riset (Research University)\”, ataukah itu hanya sekedar slogan, utopia atau lebih parahnya mimpi di siang bolong? Wallahu a’lam bish-shawabi.

 

Sumber Gambar: vumc.com

Advertisement
Click to comment
KOMENTAR ANDA
Jejaring.net tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana yang diatur dalam UU ITE.