Connect with us

Opini

Pemunculan Kembali Dikotomi NU Struktural VS NU Kultural, Sangat Menyedihkan

Diunggah:

on

Pemunculan Kembali Dikotomi NU Struktural VS NU Kultural Sangat Menyedihkan
Sumber Gambar: lakpesdamtulungagung.or.id

PBNU kalau benar-benar berniat kembali ke khittah-nya, harusnya tidak terlalu memperdebatkan NU Struktural VS NU Kultural. Apalagi kalau itu semata-mata demi jabatan politis. Sungguhsa sangat memprihatinkan.

Saya mungkin termasuk hanya sekedar berbau-bau NU Kultural, bahkan dapat dikatakan hanya sekedar kelas penggembira dan lebih dekat dikatakans ebagai kelompok Islam abangan. Namun, saya lebih menyukai NU dengan segala pendekatannya sebagai kelompok Islam moderat yang masih kental menghormati budaya, humanis, memanusiakan kelompok minoritas dan menggunakan pendekatan dakwah yang lunak.


Dalam kasus terdepaknya Mahfud MD dari salah satu jago kuat Cawapres Jokowi, saya kaget karena salah satu wacana penyebabnya adalah dikotomi NU Struktural dan NU Kultural. Lhah apakah ini justru tidak memecah belah kekuatan NU itu sendiri?

Galibnya, yang memunculkan dikotomi NU Struktural VS NU Kultural justru para elit yang ada di pimpinan PBNU plus elit PKB. Saya  justru menilainya sebagai pertaruhan marwah NU yang terlalu berbahaya.

Sejalan dengan pendapat Yenny Wahid, politik itu ibaratnya tanah becek yang rentan terkena kotoran. Sebersih-bersihnya tanah becek itu akan membuat jubah Kyai belepotan.

Ini bukan masalah siapa mendukung siapa. Ini masalah logika sederhana demi menjaga marwah Kyai dan NU itu sendiri. Saya mungkin yang termasuk dalam kategori kelompok dari ring terluar dari NU, bahkan yang dalam kategori NU kultural sekalipun, saya merasa sangat kaget.

Bagi saya, ini bukan sekedar masalah Mahfud MD dan KH Ma’ruf Amin. Ini adalah masalah besar di masa depan bagi perkembangan organisasi yang menjadi kapal besar bagi Nahdliyin itu sendiri.

Ok, saya cukup sependapat jikalau Cawapres Jokowi diambil dari santri kelompok Nahdliyin demi menangkal isu-isu yang rentan menimbulkan perpecahan bangsa yang kemungkinan akan dimunculkan oleh kelompok tertentu. Namun, mengapa pendekatan tersebut diawali dengan pengibaran dan pengobaran lagi dikotomi NU Struktural VS NU Kultural. Harusnya dikotomi ini tidak perlu dikibarkan kembali.

Padahal pada tahun 2007 silam PBNU sudah menyatakan bahwa NU Struktural merupakan pelengkap dari NU Kultural yang sudah ada ratusan tahun yang lalu. Keduanya memiliki peran-masing masing dan sama-sama penting.

Sungguh sangat menyedihkan ketika pada tahun-tahun politik ini, dikotomi MU Struktural VS NU Kultural dengan bangganya dimunculkan kembali oleh elit PBNU dan Elit Partai pro NU hanya demi masalah syahwat politik praktis jangka pendek belaka.

Semoga saja NU tidak semakin terbelah dengan dikotomi tersebut. Beberapa saat yang lalu sudah ada dikotomi NU Garis Lurus VS NU Non Garis Lurus. Itu saja sudah membuat saya ketar-ketir dan sangat prihatin. Sekarang justru elit PBNU dan elit partai yang mayoritas didukung warga Nahdliyin memunculkan dikotomi NU Struktural VS NU Kultural. Sungguh NU yang sekarang semakin menyedihkan dan memprihatinkan.

Semoga akan muncul kembali tokoh-tokoh sekelas Gus Dur dari kaum Nadliyin untuk memperbaiki organisasi NU dan menjaga marwah NU. Semoga para Kyai sepuh nan sejuk seperti Gus Mus, Mbah Maemun, Habib Luthfi dan lainnya tetap “diparingi panjang yuswo dan kesehatan” untuk menjadi penjaga marwah NU.

Secara politis saya tidak akan Golput dan akan takzim terhadap keputusan politik para Kyai sepuh termasuk keputusan politik para elit NU Struktural, namun secara pribadi saya sangat kecewa, dan prihatin dengan pen-dikotomi-an kembali NU Struktural VS NU Kultural.

Advertisement
Click to comment
KOMENTAR ANDA
Jejaring.net tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana yang diatur dalam UU ITE.
Advertisement

Featured Products