Connect with us

Ide Bagus

Mitologi Komputasi Awan

Published

on

Beberapa dekade terakhir banyak yang mendengang-dengungkan kehebatan komputasi awan. OK juga sih, namun sayangnya banyak sekali orang yang gagal paham tentang komputasi awan itu sendiri. Ingat, apapun sistem yang kita kembangkan, pastilah ada kelemahannya, dan itu termasuk komputasi awan. Ada beberapa mitos yang sering muncul gara-gara gagal paham tentang komputasi awan, diantaranya:

Mitos 1: Private Cloud, secara default, di jamin aman
Banyak perusahaan yang menerapkan Private Cloud dengan asumsi bahwa hanya karena labelnya berbunyi \”Private Cloud\”, terus serta merta dipastikan dijamin aman. Ternyata nggak juga.


Keamanan adalah sesuatu yang harus Anda desain sedemikian rupa ke dalam solusi komputasi awan – itu tidak serta-merta otomatis. Dengan demikian, Private Cloud tidak aman secara default, apalagi public cloud.

Mitos 2: Jika saya menggunakan OpenStack, pastilah akan dijamin portabilitasnya dengan penyedia OpenStack lainnya
Meskipun OpenStack menjadi standar komputasi awan, tidak ada jaminan portabilitas antara penyedia distribusi OpenStack satu dengan lainnya. Jika Anda berpikir Anda dapat menulis aplikasi pada Private Cloud OpenStack dan serta-merta memindahkannya ke  OpenStack lainnya tanpa modifikasi, dan langsung bisa dioperasikan, berarti Anda sedang bermimpi di siang bolong. 

Mitos 3: Para penyedia public cloud akan mengakses dan menganalisa data rahasia saya tanpa sepengetahuan saya
Penyedia public cloud tidak peduli tentang data Anda. Mereka hanya mau peduli bahwa Anda sukses dengan penggunaan cloud mereka – dan bahwa Anda membayar tagihan komputasi awan Anda. Mitos bahwa mereka menjual data Anda ke pihak ketiga adalah tidak benar, tidak pula mereka menggunakannya untuk intelijen pasar mereka sendiri.

Jika Anda khawatir tentang isu tersebut, gampang saja mengamankannya. Enkripsi data Anda kemudian unggah sebagaimana biasanya. Jadi, nggak perlu terlalu paranoid, bro.

Continue Reading
Advertisement
Comments

Ide Bagus

Tali Pramuka (Tali Kur) Pun Bisa Disulap Menjadi tas-Tas Cantik Jika Kita Kreatif

Published

on

By

Tali Pramuka (Tali Kur) Pun Bisa Disulap Menjadi tas-Tas Cantik Jika Kita Kreatif
omjoni.com

Kerajinan tas tali kur ini sebenarnya terkenal atau populer di seluruh dengan nama Macrame. Nah, di Indonesia sendiri umum dipanggil dengan nama tali kur. Macrame dipercaya berasal dari penenun Arab pada abad ke-13 yang mana saat itu mereka membuat simpul dari benang-benang. Simpul tersebut dirangkai hingga ke tepi kain sambil menggerakkan tangan hingga membentuk anyaman yang dekoratif menjadi syal, kerudung, dan handuk.

Kata macrame sendiri berasal dari bahasa Arab yakni migramah (مقرمة), yang bermakna handuk bergaris-garis, selubung bersulam, atau hias pinggiran. Menurut beberapa sumber, setelah Moorish ditaklukkan, seni macrame ini kemudian dibawa ke Spanyol dan menyebar ke seantero Eropa. Lalu, diperkenalkan ke Inggris pada masa Maria II of England di akhir abad ke-17.


Kerajinan ini menyebar dengan cepat dengan perantara para pelaut yang ternyata mengerjakan kerajinan tali kur ini saat berlayar lalu kemudian diperjualbelikan di daerah tempat mereka mendarat. Sebab inilah kemudian seni tali kur ini bisa menyebar hingga ke tanah Cina dan belahan dunia lainnya.

Akhir-akhir ini kesenian macrame (tali kur) berupa kalung, gelang kaki, dan gelang tangan menjadi bentuk yang paling populer digunakan di Indonesia. Tidak hanya itu, tali kur juga diaplikasikan menjadi bermacam-macam barang yang diinginkan oleh masyarakat tanah air.

Sebagai contoh tas macrame (kadang disebut tas rajut sebab motifnya yang mirip dengan tas rajutan), dompet, gelang, ikat pinggang, bahkan menjadi sepatu serta sandal juga mengadopsi kesenian macrame ini. Walaupun tidak disebut seni macrame (karena tidak populernya macrame itu sendiri di Indonesia) tapi jika dilihat dari proses pengerjaannya kerajinan ini bisa digolongkan kesenian macrame. Perbedaannya hanya pada bahan yang digunakan, motif, serta hasil akhir kreasinya.

Sumber: antaranews.com, tekoneko.net

Continue Reading

Ide Bagus

Seandainya Indonesia Punya Presiden Yang Bernyali Kayak Duterte

Published

on

By

Seandainya Indonesia Punya Presiden Yang Bernyali Kayak Duterte

Duterte adalah salah satu contoh Presiden  yang bernyali, sangat tegas dan terukur. Ketika Duterte mencanangkan gerakan anti narkoba, siapapun yang terindikasi sebagai pengedar narkoba akan dihabisi, terserah apapun kata dunia.

Sekelas walikota sekalipun juga akan dihabisi oleh Duterte tanpa pandang bulu. Dalam masalah Marawi, Duterte berani mengambil sikap tegas dengan segala resikonya.


Seandainya Indonesia memiliki Presiden yang punya nyali sebesar Duterte, maka semua sikapnya akan bereaksi dengan cepat dan tidak akan terkesan klemar-klemer, serba ragu, dan agak terkesan jaga image untuk masa Pilpres ke depan. Duterte lebih berani mengambil resiko dan mengutamakan kepentingan Nasional ketimbang keselamatannya sendiri atau bahkan nama besar partai yang mengusungnya.

Duterte nampak sangar dan menurut sebagian pihak dianggap terlalu melanggar HAM. Namun bagi Duterte, kepentingan Nasional di matanya jauh lebih besar ketimbang kepentingannya sendiri, bahkan kepentingan karir politiknya sekalipun.

Sayangnya selepas Presiden Soekarno dan Soeharto, dan Gus Dur tidak ada satupun Presiden Indonesia yang benar-benar punya nyali seperti Duterte. Bahkan, Gus Dur yang secara fisik tidaklah lengkap, memiliki nyali yang luar biasa dan menurut saya lebih gede nyalinya ketimbang Duterte.

Pemimpin Indonesia yang serba peragu, serba lamban dan menurut saya agak lebih cenderung pencitraan ini akan membawa Indonesia sebagai bangsa yang tidak layak dihormati di mata dunia. Di dalam negeri sekalipun, pemimpinnya dijadikan bahan candaan, bully ataupun pe-ngenyek-an oleh orang-orang yang tidak menyukainya, itu dianggap sebagai hal yang sangat biasa.

Demo berjilid-jilid, berkepanjangan dan sekarang menjadi reuni dengan agenda yang entah apa maksudnya, menunjukkan betapa tidak berwibawanya pemerintahan saat ini. Hal itu terjadi karena ketiadaan nyali para pemimpin negeri ini dalam mengambil sikap dan resiko.

Pembiaran yang berkelanjutan ini akan dituai pahitnya oleh kita semua di kemudian hari. Pembiaran dan pengabaian yang hanya diselesaikan dengan jalan sekedar menghimbau dan seringkali berakhir dengan negosiasi, menunjukkan bahwa betapa kerdilnya nyali pemerintahan saat ini. Hal ini akan sama saja dengan membiarkan adanya bom waktu yang akan mudah meledak di masa yang akan datang.

Kalau tidak bernyali, serba telat dalam bereaksi dan tidak berani bersikap secara tegas, maka sebaiknya segera lempar handuk, dan lebih baik diserahkan saja kepada militer yang kemungkinan besar masih punya nyali. Kalau nggak punya nyali, ya jangan pernah berkeinginan jadi Presiden untuk memimpin negeri sebesar ini.

Halus dan lemah lembut seperti Harjuna itu sangat bagus, namun tidak memiliki keberanian untuk bertindak dengan segala resikonya itu nggak mirip sama sekali dengan perilaku Harjuna. Peragu, nggak bernyali dan serba telat dalam bertindak itu lebih mirip dengan Lesmana Mandrakumara, ketimbang Harjuna. Maksimal ya cuma sekelas Durmagati saja lah.

Continue Reading

Ide Bagus

Inilah Sosok Sebenarnya Dibalik Semua Jamuan Makan Presiden Jokowi

Published

on

By

Inilah Sosok Sebenarnya Dibalik Semua Jamuan Makan Presiden Jokowi

Presiden Jokowi cukup berhasil dalam mengelola semua kondisi dan keadaan dengan diplomasi meja makan. Jadi, kalau ada negosiasi, penghargaan ataupun termasuk upaya untuk meredam gesekan, Presiden Jokowi cukup piawai memainkan diplomasi dengan pendekatan jamuan meja makan.

Namun ada sosok penting yang memiliki peran utama dibalik semua jamuan meja makan dari Presiden Jokowi.  Dia adalah Ka.Biro Pengelolaan Istana Sekretariat Presiden dan sekaligus Pelaksana Tugas Kepala Bagian Jamuan, Darmastuti Nugroho. Pegawal Setneg dengan golongan IV/c ini menjadi penanggungjawab kesuksesan jamuna meja makan Presiden Jokowi.


Diplomasi di tengah situasi politik yang memanas belakangan ini diawali pertemuan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, diikuti Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, dan terakhir Ketua Umum Golkar Setya Novanto pada sore tadi.

Presiden Jokowi tidak menjamu tamunya itu dengan menu yang sama. Pada saat menjamu Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh tadi pagi, Presiden Joko Widodo menghidangkan Mie Aceh. Siang tadi, saat dikunjungi Ketua Partai Persatuan Pembangunan Romahurmuziy, keduanya melahap Coto Makassar. Kenapa bisa berbeda?

“Itu berdasarkan pesanan Presiden Joko Widodo,” ujar Kepala Biro Pengelolaan Istana Sekretariat Presiden dan Pelaksana Tugas Kepala Bagian Jamuan Darmastuti Nugroho kepada Tempo.

Continue Reading

Trending