Connect with us
mm

Published

on

Wisata Kopi Lego terletak di Lingkungan Lerek, Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro. Desa ini terkenal dengan perkebunan kopi rakyatnya. Hampir setiap rumah di sana, menanam kopi di pekarangan rumah dan kebunnya. Tak hanya itu, desa ini juga dikenal sebagai kampung ettawa, salah satu sentra peternakan kambing ettawa di Banyuwangi.

Adalah Hariyono (40), warga Lerek yang berinisiatif meningkatkan potensi desanya. Pria yang akrab disapa Pak Ho ini mengungkapkan ide awal membuka wisata agro ini, dipicu dari rendahnya harga kopi rakyat di pasaran. Waktu itu, katanya, harga biji kopi hanya Rp 17-18 ribu/kg. Padahal warga Gombengsari sebagian besar menggantungkan hidupnya dari kebun kopi.


“Kopi kami ini enak rasanya, hasilnya melimpah, tapi kok tidak terlalu berdampak pada ekonomi kami. Saat itu, yang kami lakukan hanya tanam, panen, lalu biji kopinya kami jual. Orang lain yang mengolah biji kopinya. Akhirya kami sadar, sejak akhir 2015 lalu kami ubah,” kata Pak Ho kepada wartawan, Jumat (2/11/2018).

Perubahan yang dimaksudkan Pak Ho, adalah mereka mulai memproses kopi sendiri, memproduksi bubuk kopi untuk meningkatkan nilai jual kopinya.

“Kita olah bijinya jadi bubuk kopi, kita brand, lalu kita pasarkan sendiri. Dan ternyata, secara ekonomi jauh lebih menguntungkan,” jelas Pak Ho.

Brand yang dijual adalah Kopi Lego (Lerek Gombengsari) dengan enam varian kopi. Yakni kopi luwak, kopi lanang, kopi arabika, kopi robusta, kopi liberika, dan house blend (campuran arabika dan robusta).
“Kami bikin kemasan per 200 gram, harganya antara Rp 40 ribu hingga 200 ribu, tergantung jenis kopinya. Dalam sebulan, produksi kita mencapai 1,5 kuintal,” kata Pak Ho.

Tidak hanya berhenti di situ, warga desa Gombengsari juga memperkenalkan potensi kopi yang dimilikinya melalui pariwisata. Mereka lalu membuat paket wisata edukasi kopi. Di sini, wisawatan akan dikenalkan berbagai proses kopi.

“Kami tawarkan paket wisata lengkap. Mulai tracking kebun kopi, melihat petik kopi, pemrosesan biji kopi secara tradisional, hingga minum kopi dan menyantap kuliner dan buah lokal khas Gombengsari,” katanya.

Kebun kopi di Gombengsari luasnya mencapai sekitar 400 hektar. Rata-rata, setiap petani memiliki 1-5 hektare, dengan produksi 1,5 ton per hektare.

Dalam satu bulan, kata Pak Ho, rata-rata wisatawan yang datang ke sini ada sekitar 200 rombongan. Wisatawan juga diajak melihat kandang kambing ettawa yang banyak tersebar di rumah penduduk.

Sumber: tourbanyuwangi.com

Advertisement
Click to comment
KOMENTAR ANDA
Jejaring.net tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana yang diatur dalam UU ITE.