Connect with us
mm

Published

on

Rusia, Iran dan Turki, pendukung dari pihak-pihak utama dalam perang saudara yang kompleks di Suriah, pada hari Selasa gagal menyepakati susunan komite konstitusi Suriah yang disponsori PBB tetapi menyerukannya untuk mengadakannya awal tahun depan untuk memulai proses perdamaian yang layak.

Dalam pernyataan bersama yang dibacakan oleh Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov setelah ke tiga negara (Rusia, Iran & Turki) bertemu dengan utusan perdamaian Suriah PBB, Staffan de Mistura, di Jenewa, mereka mengatakan prakarsa baru harus dipandu “oleh rasa kompromi dan keterlibatan konstruktif”.


Para menteri luar negeri dari ketiga negara itu berharap untuk mematangkan proposal gabungan mereka di komite – yang dapat mengawali Pemilihan Umum Suriah dan mendapatkan persetujuan PBB.

Namun pernyataan oleh ketiganya tidak menyebutkan komposisi panel, menunjuk pada ketidaksepakatan yang berkepanjangan atas daftar kandidat yang diajukan oleh Presiden Suriah Bashar al-Assad dan para musuhnya yang memberontak.

Pemerintah Suriah, yang didukung oleh Moskow dan Teheran, belum menyetujui komite tersebut, mengatakan bahwa itu hanya akan mendukung proses yang mengubah konstitusi Suriah yang sudah ada.

De Mistura, yang berbicara dalam sebuah konferensi pers yang terpisah, menjelaskan bahwa ketiga kekuatan itu belum membakukan sebuah forum politik yang bisa dijalankan, setelah bertahun-tahun usaha yang gagal dalam mengakhiri perang tujuh tahun berdarah di Suriah.

De Mistura, yang akan diganti sebagai utusan PBB pada 7 Januari, memuji “masukan bersama yang signifikan” dari ketiga kekuatan tersebut. Pertemuan itu menandai momen terakhir dalam masa jabatan empat tahun De Mistura, yang tidak menghasilkan terobosan apapun untuk perdamaian Suriah.

Pemerintah Assad dan oposisi yang berjuang untuk menggulingkannya, masing-masing telah mengirimkan daftar 50 nama. Tetapi Rusia, Iran dan Turki telah melakukan tawar-menawar atas 50 anggota terakhir dari masyarakat sipil dan yang berlatar belakang “independen”.

Turki mendukung pemberontak yang menguasai sebagian Suriah barat laut. Setahun yang lalu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menggambarkan Assad sebagai “teroris” dan mengatakan tidak mungkin bagi upaya perdamaian Suriah jika terus melibatkan Assad.

Mevlut Cavusoglu, menteri luar negeri Turki, mengatakan pada hari Minggu bahwa Turki dan negara-negara lain akan mempertimbangkan bekerja dengan Assad jika dia memenangkan pemilihan demokratis.

Assad, yang pasukannya telah berhasil merebut kembali sebagian besar Suriah dengan dukungan Rusia dan Iran yang tinggal hanya menyisakan propinsi Idlib. Sebuah provinsi di barat laut Suriah yang saat ini masih dikuasai oleh pemberontak.

Pemerintah Suriah sebelumnya telah menepis upaya yang dipimpin PBB untuk membentuk komite konstitusi.

Ratusan ribu warga Suriah tewas dalam perang yang dimulai pada Maret 2011 dengan jutaan orang terpaksa melarikan diri dari pertempuran ke negara lain.

Sumber: aljazeera.com

Advertisement
Click to comment
KOMENTAR ANDA
Jejaring.net tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana yang diatur dalam UU ITE.