Connect with us
mm

Published

on

Jujur saja selepas Reformasi, dua kali keluarga besar saya memilih SBY. Dan terbukti pilihan saya kami cukup akurat, karena Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berhasil terpilih sebagai Presiden dua kali berturut-turut.

Hal itu karena kerinduan kami kepada sosok militer yang tegas, ganteng dan kebetulan sebelumnya kami ikut merasa prihatin karena kabarnya SBY di-dzalimi oleh Megawati. Makanya kami memilih SBY walaupun pesaing terberatnya Megawati dengan apapun pasangannya.


Berikutnya, pada tahun 2014, kami memilih pasangan Prabowo – Hatta, karena kami masih tetap mengidolakan sosok militer yang tegas, ganteng dan lagi-lagi karena di-dzalimi oleh Megawati pada kasus Perjanjian Batu Tulis 2009.

Selain itu, kami memilih pasangan Prabowo – Hatta karena kami mengharap ketegasan selayaknya sikap seorang jenderal dalam kasus apapun. Sayangnya pilihan kami ternyata kalah. Pasangan Jokowi – Jusuf Kalla (JK) justru yang memenangkan kontestasi Pilpres tersebut.

Tahun berganti tahun, sebenarnya kami masih mendukung Prabowo secara diam-diam. Bahkan saya pun sering berdebat keras dan bahkan hampir berantem dengan kawan yang mengejek jargon Prabowo “bocor…bocor…bocor…”.

Saat itu, saya pun juga termasuk yang mempertanyakan dan geregetan dengan tidak terpenuhinya Nawacita. Namun, berlalunya waktu, saya mulai melihat kinerja Jokowi yang menunjukkan bukti yang cukup baik dan memuaskan terlepas dari janji Nawacita nya terpenuhi atau tidak. Semua selayaknya dapat menilai kinerjanya secara fair.

Laman: 1 2 3

Advertisement
Click to comment
KOMENTAR ANDA
Jejaring.net tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana yang diatur dalam UU ITE.
Advertisement

Serial Terbaru