Connect with us

Opini & Analisis

Idlib Menjadi Awal Dari Tamatnya Riwayat Hay’at Tahrir al-Sham?

Published

on

Bagaimana dengan takdir dari para pemberontak?

Turki mempertahankan beberapa pangkalan militer di provinsi ini. Berbagai laporan dari media-media Arab baru-baru ini mengatakan Turki telah menuntut HTS – sebelumnya dikenal sebagai Front al-Nusra – dan kelompok bersenjata lainnya untuk membubarkan diri dan meninggalkan Idlib.

Abu Mohammed al-Joulani, pemimpin Hay’at Tahrir al-Sham, telah dilaporkan menyatakan bahwa dirinya beserta seluruh milisi dibawah kendalinya tidak akan mengindahkan tuntutan Turki dan memerintahkan para pejuangnya untuk “mengikuti Tuhan, bukan Turki” dan bersiap untuk pertempuran.

Namun seorang Salafi terkenal dari Yordania yang memiliki pengetahuan tentang kelompok-kelompok bersenjata yang bertempur di Suriah meragukan panggilan terakhir al-Joulani untuk para kadernya untuk bertempur sampai titik darah penghabisan.

Pemimpin HTS bersikap tidak jujur ​​karena “Joulani sebenarnya ingin mengikuti anjuran Turki, tetapi dibalik itu sebenarnya menginginkan imbalan yang lebih besar untuk memenuhi tuntutan Turki”, katanya kepada Al Jazeera, menolak untuk diidentifikasi karena dia dilarang berbicara kepada media oleh intelijen Yordania .

“Ketika Joulani tidak mendapatkan apa yang dia inginkan dari Turki, Joulani membuat pernyataannya menyerukan perang,” katanya.

Berdasarkan informasi dan keakrabannya dengan kepemimpinan agama HTS, Yordania mengatakan nanti HTS akhirnya akan membubarkan diri dan menyatakan langkah pembubaran diri tersebut dengan alasan demi untuk “kepentingan terbaik agama dan masyarakat Idlib”.

Landis setuju bahwa waktu itu untuk kelompok bersenjata sebagai pilihan Hay’et Tahrir al-Sham telah mulai kedodoran, terutama hubungannya dengan Turki.

Pemerintah Turki tidak akan mengizinkan para anggota HTS bermukim kembali di Turki karena takut dituduh menyembunyikan “teroris”, sehingga memperumit hubungan dengan badan-badan intelijen Barat.

“HTS telah mencapai pada titik akhir riwayatnya,” kata Landis.

Satu-satunya pilihan yang mungkin dimiliki oleh pejuang kelompok adalah relokasi ke Suriah utara dekat Aleppo, di mana pemberontak lain masih memiliki kendali. Tetapi bahkan pilihan itu rumit dan dapat memicu pertempuran di antara faksi-faksi oposisi.

Sumber: aljazeera.com

Laman: 1 2

Advertisement
Comments