Connect with us

Internasional

Dalam Masalah Konflik Suriah, Kartu Penentunya di Tangan Putin

Published

on

Tidak ada yang tahu secara pasti apa yang disepakati di Suriah ketika Donald Trump bertemu dengan presiden Rusia, Vladimir Putin, di Helsinki. Bahkan sekelas Jenderal Joseph Votel, komandan pasukan Amerika Serikat di Timur Tengah pun mengakui “tidak mendapatkan perintah baru dari Trump”.

Tetapi ada titik-titik tertentu dari perjanjian AS-Rusia yang lebih jelas. Yang paling penting adalah bahwa keduanya percaya ketidakstabilan tambahan, terutama yang mencakup perbatasan Suriah-Israel, harus dihindari. Itu berarti, dalam praktik, merupakan penerimaan Amerika Serikat bahwa Assad akan tetap berkuasa dan Trump tampaknya tunduk dengan pendekatan ini.

Sebagai imbalannya, Amerika Serikat sebagaimana yang digembar-gemborkan oleh Benjamin Netanyahu di Israel yang katanya menginginkan Rusia untuk memastikan pasukan Iran di Suriah dijauhkan dari perbatasan Israel. Netanyahu lebih suka Iran diusir sama sekali.

Dengan menarik dukungan untuk pemberontak selatan dan meninggalkan “zona de-eskalasi” yang dibuat tahun lalu, Trump secara tidak langsung membantu Putin dan Assad mempercepat proses perebutan wilayah Suriah Selatan minggu lalu. Trump juga nampak kayak disetir oleh Putin di Helsinki, ketika Putin seolah mendikte Trump dalam menekankan perlunya memulihkan gencatan senjata Golan Heights pada 1974.

Nah, hal ini menunjukkan bukti bahwa Putin adalah orang yang memegang kartu penentu sebenarnya dalam penyerbuan berikutnya ke Idlib. Walaupun mungkin akan membuat sedikit gerah Erdogan, saya yakin Assad dan sekutunya dengan dukungan Rusia pasti akan segera menggempur Idlib dengan segala konsekuensinya.

Militer Amerika Serikat kemungkinan besar tidak akan campur tangan lagi. Terakhir, daerah Suriah Selatan (Daraa dan Quneitra) yang sebelumnya merupakan wilayah de-eskalasi yang dilindungi oleh Amerika Serikat pun tidak melakukan tindakan apapun. Bahkan milisi pemberontak yang sebelumnya didukung dalam segala hal oleh koalisi pimpinan Amerika Serikat diabaikan ketika diserang habis-habisan oleh Assad dan sekutunya, Amerika Serikat memilih untuk menolak untuk melindungi milisi pemberontak.

Laman: 1 2

Advertisement
Comments