Connect with us

Berita

Kembalinya Milisi SDF Pimpinan YPG Menggelerokan Kembali Upaya Serangan Anti ISIS

mm

Published

on

Kembalinya Milisi SDF Pimpinan YPG Menggelerokan Kembali Upaya Anti ISIS
Sumber Gambar: twitter.com

Kembalinya kekuatan milisi anti ISIS (SDF) yang diketuai oleh milisi Kurdi (YPG) telah menghidupkan kembali serangan darat yang didukung Amerika untuk menghapus kantong terakhir militan ISIS di Suriah timur. Tetapi kampanye mungkin hanya memiliki waktu kurang dari enam bulan untuk memburu beberapa ratus pejuang – tidak cukup waktu untuk memadamkan ancaman yang dengan cepat bergerak di bawah tanah.

Misi melawan ISIS juga telah dilatarbelakangi oleh semakin meningkatnya dukungan pasukan komando Prancis, kedatangan jet tempur di armada Angkatan Laut Perancis dan dukungan data lapangan dari beberapa intelejen Irak yang cukup akurat.


Namun para komandan Kurdi Suriah (YPG) – sekutu paling efektif dalam pertempuran – juga harus berhadapan dengan pejuang pemberontak Suriag dukungan Ankara yang mulai mencengkeramkan kembali kekuatannya ke wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh milisi SDF dan memperbarui serangan gerilya dari tempat persembunyian di seluruh wilayah Suriah.

Momentum baru itu tetap terancam oleh ancaman Presiden Trump lagi, dari ancaman lagi untuk menarik sekitar 2.000 pasukan Amerika di Suriah, termasuk ratusan penasihat Operasi Khusus dan komando. Para pejabat administrasi Trump mengatakan Menteri Pertahanan Jim Mattis dan para komandan Amerika atas telah diberikan setidaknya hanya tersisa waktu enam bulan untuk membasmi sisa-sisa kekuatan ISIS di Suriah timur.

“Militan ISIS kini telah bergeser ke operasi gerilya, meningkatkan kemungkinan bahwa ia akan terus beroperasi di Suriah timur dan Irak barat selama bertahun-tahun,” kata Seth G. Jones, direktur Transnational Threats Project at the Center for Strategic and International Studies di Washington.

Para pejabat intelijen dan kontraterorisme Amerika dan Barat juga mengatakan kekalahan ISIS di Suriah dan Irak, dan perang baru yang berkembang terhadap cabang-cabang kelompok ISIS di Afrika Barat ke Afghanistan, faktanya telah gagal untuk menahan kemampuan sisa-sisa militan ISIS untuk memobilisasi pengikut global yang kuat melalui sosial media.

“Pesan online ISIS memiliki beberapa tema, dan ketika mengalami kekalahan di medan perang, memaksa kelompok untuk beralih dari pesan-pesan yang menekankan penyelenggaraan aksi teror di wilayah terdekat, dan kelompok pendukung ISIS ini dapat serta merta berubah seolah-olah mereka adalah korban represi dan invasi Barat,” Joshua A. Geltzer, mantan direktur senior untuk counterterrorism at the National Security Council dalam pemerintahan Obama, mengatakan dalam kesaksian kongres pekan lalu.

Sejak jatuhnya Raqqa, ibu kota ISIS yang diproklamirkan sepihak oleh kelompok militan ini, akhir tahun lalu, pesawat tempur koalisi pimpinan Amerika Serikat terutama mengandalkan milisi Kurdi Suriah untuk menghabisi militan ISIS yang tersisa, menyingkirkan mereka dari tempat persembunyian mereka dan memperkuat posisi tempur milisi SDF dukungan pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat, atau menentukan secara tepat lokasi sisa-sisa militan ISIS terkini. Itu akan menjadi target bagi para pembom tempur sekutu. Tetapi para pejuang milisi SDF pimpinan milisi Kurdi (YPG) mulai meninggalkan Suriah timur pada akhir Januari untuk membela suku Kurdi lainnya, di barat laut negara itu (Afrin) untuk membendung serangan Turki.

Milisi SDF yang dipimpin oleh milisi Kurdi (YPG) adalah andalan sekutu dalam menghabisi ISIS di Raqqa dan mengejar sisa-sisa militan ISIS yang melarikan diri ke selatan di sepanjang Lembah Sungai Eufrat ke perbatasan Irak. Tanpa dukungan milisi Kurdi (YPG), praktis kekuatan darat milisi SDF kurang mampu menahan kekuatan beberapa ratus sisa-sisa militan ISIS di dua kantong utama pertahanan terakhir mereka.

“Bahkan kalaupun berhasil menghabisi dua bagian pertahanan ISIS terakhir ini, masih ada ancaman lain yang tidak kalah besarnya,” kata Senator Don Bacon, seorang anggota partai Republik dari Nebraska dan juga seorang purnawirawan militer Angkatan Udara yang pernah bertugas di Irak, mengatakan pada sidang baru-baru ini pada Komite Keamanan Dalam Negeri. “Mereka bisa muncul kembali pada titik mana pun di dunia.”

Kebuntuan itu mulai terpecahkan setelah Pasukan Demokrat Suriah (SDF) pimpinan milisi Kurdi (YPG) mengumumkan serangan darat baru pada 1 Mei, yang disebut dengan Operasi Roundup.

Sumber: nytimes.com

Advertisement
Click to comment
KOMENTAR ANDA
Jejaring.net tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana yang diatur dalam UU ITE.
Advertisement

Info Diskon Terbaru