Connect with us
Parlemen Teheran Dan Makam Khomeini Diserbu Militan ISIS Secara BersamaanSedikitnya 12 orang tewas dan 42 lainnya luka-luka pada Rabu pagi dalam serangan mengejutkan dua simbol Iran yang paling kuat:...
mm

Published

on

Sedikitnya 12 orang tewas dan 42 lainnya luka-luka pada Rabu pagi dalam serangan mengejutkan dua simbol Iran yang paling kuat: Parlemen nasional dan makam pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini.

ISIS segera mengklaim bahwa mereka berada di balik serangan tersebut. Ini adlaah untuk pertamakalinya kelompok garis keras Muslim Sunni mengklaim bertanggung jawab atas serangan di dalam negeri Iran, yang didominasi oleh Muslim Syiah. Kelompok teroris tersebut bertempur dengan pasukan yang didukung Iran di Irak dan di Suriah, dan menganggap Muslim Syiah sebagai orang-orang yang telah murtad.


Ketegangan di wilayah tersebut sudah tinggi; Setelah kunjungan Presiden Trump, Arab Saudi dan beberapa sekutu Sunni memimpin sebuah upaya regional pada hari Senin untuk mengisolasi Qatar, satu-satunya negara Teluk Persia yang masih memelihara hubungan dengan Iran.

Selain 12 korban, enam penyerang dinyatakan telah terbunuh: empat di Parlemen, dan dua di kompleks makam Khomeini.

Serangan tersebut berlangsung beberapa jam, dimulai sekitar pukul 10.30 pagi, ketika beberapa pria dipersenjatai dengan senapan serbu dan rompi bunuh diri – beberapa di antaranya mengenakan pakaian sebagai wanita – langsung merangsek ke gedung Parlemen, menewaskan sedikitnya satu satpam, dan melukai dan menyandera beberapa orang lainnya. Pengepungan langsung dilakukan oleh aparat Iran, berlangsung sekitar empat jam.

Bangunan tersebut sedang menjalani renovasi yang dimaksudkan untuk meningkatkan keamanan, terutama di pintu masuk, namun belum sepenuhnya selesai.

Sebagai pertanda bahwa pasukan keamanan elit Irans ebenarnya tidaklah kuat sebagaimana yang dibayangkan, salah satu penyerang berhasil meninggalkan gedung Parlemen satu jam setelah pengepungan tersebut, kemudian berlari keluar menembaki orang-orang yang ada di jalan-jalan di Teheran sebelum kembali lagi masuk ke gedung parlemen tersebut – di mana setidaknya satu dari penyerang tersebut meledakkan dirinya di Lantai empat sementara yang lainnya terus menembaki ke arah masa dari jendelagedung Parlemen.

Juru Bicara Parlemen, Ali Larijani, hanya mengakuinya sebagai “insiden kecil,” dengan mengatakan bahwa “beberapa teroris pengecut” telah menyusup ke kompleks legislatif dan bersumpah bahwa “pasukan keamanan pasti akan melakukan tindakan serius terhadap mereka.”

ISIS merilis sebuah video berdurasi 24 menit yang menunjukkan seorang pria berdarah tergeletak di lantai Parlemen sementara seorang pria bersenjata di belakang berteriak, “Syukurlah! Apakah Anda berpikir bahwa kita akan pergi? Kita akan tetap di sini, Insya Allah. ”

Serangan di mausoleum – sekitar 10 mil selatan Parlemen – dimulai beberapa waktu sebelum pukul 11 ​​pagi dan berlangsung sekitar satu jam setengah, media berita nasional Iran melaporkan.

Dua penyerang memasuki sayap barat mausoleum yang luas, yang merupakan tempat makam Ayatollah Khomeini, yang meninggal pada tahun 1989, dan merupakan tujuan utama wisatawan dan peziarah religius. Menurut kantor berita setempat, setidaknya satu penyerang meledakkan diri di pintu masuk sebelah barat. Seorang lainnya dilaporkan melakukan bunuh diri dengan menelan pil sianida, meskipun ada laporan lain bahwa militan tersebut telah ditembak mati oleh pasukan keamanan.

Ini adlah serangan teroris pertama di lebih dari satu dekade di jantung kota Teheran. Peristiwa ini  terjadi tepat sekitar dua minggu setelah Trump, dengan Arab Saudi dan sekutunya, berjanji untuk mengisolasi Iran. Iran telah menolak pernyataan tersebut, yang dibuat pada pertemuan puncak di Riyadh, ibukota Saudi, sebagai sebuah skema oleh Trump untuk menjual senjata ke Arab Saudi.

Dalam pandangan banyak orang di Iran, ISIS, sangat terkait dengan Arab Saudi. Hamidreza Taraghi, seorang analis garis keras yang memiliki hubungan dengan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengatakan, “ISIS secara ideologis, secara finansial dan logistik didukung sepenuhnya dan disponsori oleh Arab Saudi – mereka adalah satu dan sama.”

Iran dan Arab Saudi adalah negara-negara terkemuka di sisi berlawanan dari Timur Tengah yang memisahkan antara Islam Syiah dan Sunni. Iran memiliki penasihat militer di Irak dan Suriah, dan mengendalikan dan membiayai milisi di negara-negara tersebut dan di Lebanon. Teheran juga memiliki beberapa pengaruh mengenai Huthi yang memerangi pemerintah di Yaman, dan sering kali berbicara untuk mendukung orang-orang Syiah di Bahrain, sebuah kelompok mayoritas yang menurut Iran ditekan oleh monarki Sunni.

Sumber: France 24 english, New York Times

Advertisement
Click to comment
KOMENTAR ANDA
Jejaring.net tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana yang diatur dalam UU ITE.