Connect with us
mm

Published

on

Kalau masalah plagiasi dalam tulisan, jelas sudah diakui sendiri oleh Afi Nihaya. Apakah plagiasi tersebut dibenarkan? Jelas tidak diperbolehkan. Pertanyaannya, mengapa dia harus dihukum sekeras ini?


Yang sangat membuat saya prihatin adalah ketika fenomena Afi Nihaya ini dijadikan bahan bully-an oleh sebagian kalangan. Parahnya, sampai meme Afi Nihaya dan kehidupan pribadinyapun di Bully habis sampai diganti wajah seseorang. Masalalah foto editan di media sosial yang dia miliki juga di bully habis-habisan.

Kalau dikatakan Afi Nihaya salah ya jelas salah dan dirinya sendiri pun mengakuinya. Terus mengapa bully-an menjadi berkepanjangan dan seolah menjadi arena balas dendam pada kelompok-kelompok yang mungkin saja terlalu mem-blow up fenomena Afi Nihaya, sebagai anak muda yang cerdas dan pluralis.

Kalau mau membalas dendam kepada kelompok yang mem – blow up fenomena Afi Nihaya, masih masuk akal bagi saya. Namanya juga berseberangan secara politis dan ideologis.

Namun ketika Afi Nihaya dijadikan sarana untuk balas dendam, alangkah baiknya juga dipertimbangkan efek psikologis yang sangat menghancurkan bagi anak muda yang bernama Afi Nihaya ini. Hal ini jelas sangat mengerikan bagi psikologi dan masa depan Afi Nihaya.

Masalah gumunan pihak-pihak yang begitu mengangkat Afi Nihaya terlalu tinggi sebagai anak muda yang cerdas dan pluralis, saya anggap ini merupakan kesalahan fatal yang seolah mengumpankan Afi Nihaya pada belantara pertarungan yang tidak akan pernah dia kuasai dan dia mengerti.

Gumunan tersebut juga termasuk menjangkit akut pada media mainstream dan bahkan pemerintah yang mengundangnya secara khusus ke Istana. Nampaknya media mainstream dan juga pemerintah nggak memperhitungkan dampak negatifnya secara psikologis bagi anak muda dari kampung yang bernama Afi Nihaya ini.

Ketika fenomena Afi Nihaya ini di blow-up berlebihan, saya sebenarnya sempat was-was bahwa anak ini akan menuai badai yang tidak akan pernah terbayangkan sakitnya olehnya. Ternyata badai ini tidak terlalu lama dan menerjang serta memporakporandakan aspek psikologinya.

Publik seolah menempatkan Afi Nihaya seolah sebagai seorang pesakitan yang layak dihukum dengan bertubi-tubi bully-an, yang dalam pandangan saya, terlalu berlebihan dan menyakitkan bagi seorang ABG ini. Marilah sekali-kali menempatkannya pada sudut pandang yang berbeda. Afi Nihaya dalam hal ini dapat ditempatkan juga sekaligus menjadi korban dari pihak-pihak gumunan yang mem-blow up-nya berlebihan, sehingga memancing banyak pihak untuk mencari titik lemah dari tulisan-tulisannya.

Ketika titik lemah tersebut ketemu, maka blarrrr, semua akan beramai-ramai membanting keras-keras Afi Nihaya ke jurang yang tidak pernah terbayangkan sakitnya bagi sisi psikis Afi Nihaya. Media sosial, bahkan situs-situs tertentu seolah begitu nyamannya membalas dendam tanpa ampun pada anak muda ini.

Ingat, itu hanyalah tulisan kelas curhat berupa status pada Facebook. Tulisan seorang AFi Nihaya bukanlah tulisan yang bersifat ilmiah/akademik yang sangat rigid terhadap aturan-aturan plagiasi. Namun dalam pandangan saya, tetap sangat disayangkan ketika tulisan tersebut seolah diakui sebagai murni tulisannya sendiri.

Alhamdulillah, Afi Mengakuinya dan meminta maaf pada akhirnya. Apakah hal ini masih belum cukup bagi kita semua? Apakah baru akan terpuaskan kalau Afi Nihaya terbukti benar-benar hancur-lebur? Apakah Afi Nihaya tidak akan diberi kesempatan sedikitpun untuk melanjutkan masa mudanya dan melanjutkan belajar berkehidupan, sehingga kelak menemukan kedewasaanya dalam curhat dalam bentuk tulisan di media sosial? Apakah ini cara terbaik kita untuk mendidik anak-anak muda kita seperti Afi Nihaya? Mari kita merenung bersama pada bulan baik seperti ini.

Sumber Gambar: liputan6.com

Advertisement
Click to comment
KOMENTAR ANDA
Jejaring.net tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana yang diatur dalam UU ITE.