Connect with us
Ketika Musibah Orang Lain Dipakai Sebagai Pembenaran Akan Tuah SeseorangSungguh membuat bulu kuduk saya berdiri. Bukan karena takut dari efek tuah seseorang yang konon katanya melakukan Mubahalah, namun lebih...

Published

on

Sungguh membuat bulu kuduk saya berdiri. Bukan karena takut dari efek tuah seseorang yang konon katanya melakukan Mubahalah, namun lebih melihat perilaku yang entah menggunakan dasar agama apa yang begitu gembira ketika orang lain tertimpa musibah. Sungguh membuat saya begidik ngeri, karena begitu taklidnya pada sesuatu yang entah apapun alasannnya, sehingga begitu menikmati musibah ataupun kemalangan orang lain demi pembenaran mengenai tuah seseorang.

Saya tidak mengingkari jikalau Mubahalah adalah salah satu cara yang diperbolehkan dan bahkan di Ridhoi oleh Allah. Yang menjadi pertanyaan di benak saya adalah apakah dibenarkan jika Mubahalah digunakan untuk segala urusan yang remeh-temeh seperti ini. BUkankah Mubahalah itu dilakukan Rasulullah SAW dalam masalah urusan ketidak setujuan kaum terhadap akidah kita? Mengapa kemudian didegradasi maknanya hanya demi urusan ecek-ecek yang berbau urusan syahwat?


Sungguh luar biasa ketika kegirangan dan klaim tentang efek Mubahalah dari seseorang yang dianggap sangat bertuah diumbar dan dinikmati begitu rupa. Ini adalah bulan baik penuh berkah dan penuh ampunan. Mengapa dipenuhi dengan nuansa hati yang penuh dengki dan benci sedemikian rupa.

Apakah jikalau efek Mubahalah tersebut benar-benar membawa korban, kita layak untuk menikmatinya dan menyukurinya dengan berlebihan seperti ini? Sungguh suatu intepretasi keimanan yang membuat saya ngeri dan sedih luar biasa.

Yang paling menyedihkan bagi saya adalah ketika hal tersebut di gembor-gemborkan dan di elu-elukan oleh situs-situs yang kelihatannya bernuansa Islami. Apakah seperti inikah gambaran dari Islam sebenarnya? Islam yang penuh dengan hujatan, kebencian, laknat dan penuh dengan doa-doa yang buruk bagi mereka yang dianggap tidak sehaluan.

Ramadhan yang seharusnya banyak diisi dengan sebanyak-banyaknya tebaran kasih dan penuh ampunan, ternyata juga dapat digunakan untuk menebar hujatan, kebencian dan musibah bagi orang lain.

Saya jadi teringat lagi pada doa berbungkus lagu dari almarhum Zainal Arifin yang merupakan salah satu personil Kyai Kanjeng tentang Harapan dan Doa. Suatu lagu yang masih dapat membuat air mataku menetes ketika mendengarkannya.

Suatu lagu yang menunjukkan sikap lembut hati dan sikap yang sungguh-sungguh menggetarkan hati. Tidak ada didalamnya hujatan dan ujaran kebencian dalam bentuk apapun bagi siapapun. Hanya sebuah harapan dari Ridho Allah SWT serta ampunan dari AYah dan Ibu yang paling ditunggu dan diharap.

Mengapa kita tidak dapat memilih untuk melakukan hal-hal positif dan menggetarkan hati sebagaimana almarhum Zainal Arifin. Semoga arwah mas Zainal Arifin mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Nya. Amin.

Mengapa waktu kita habiskan untuk menghujat dan medoakan yang buruk bagi orang lain. Apakah kita sudah sangat yakin bahwa kita sudah menjadi yang terbaik di sisi Nya? Mengapa tidak memilih untuk memohon ampun dan menharap rahmat dari Nya.

Mengapa kita begitu hobi, menikmati dan bahkan sangat kegirangan ketika orang yang tidak sehaluan dengan kita tertimpa musibah? Perlu kita renungkan kembali isi hati kita masing-masing. Dan alangkah baiknya jika kita gunakan bulan baik ini untuk berinstropeksi diri lagi apakah hati kita masih banyak ditumbuhi bulu atau tidak.

Kebencian, dendam atau ketidak-sukaan yang berlebihan jangan justru menjebak kita untuk seolah menjadi individu yang ingkar dan berusaha menegasikan Ridho Nya. Apakah menikmati musibah orang lain itu identik dengan mengharap Ridho Nya? Apakah perilaku seperti ini yang diajarkan kanjeng Rosul kepada kita? Mari kita bersama-sama berinstropeksi diri dalam-dalam.

Advertisement
Click to comment
KOMENTAR ANDA
Jejaring.net tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana yang diatur dalam UU ITE.