Connect with us
mm

Published

on

“Tamat sudah, untuk tradisi moderat di Indonesia … Dalam sepuluh tahun ke depan, Indonesia mungkin akan menjadi seperti Pakistan.”

Mata gadis sekolah berusia 15 tahun itu dipenuhi air mata saat meletakkan telepon genggamnya. Sahabatnya di sekolah, sahabat dekatnya sendiri baru saja menelponnya, dan mengucapkan bahwa “Kita tidak bisa lagi berteman,” katanya. “Tuhanku tidak mengizinkanku berteman dengan orang sepertimu.”


Percakapan ini berlangsung di sebuah kota di Indonesia dengan reputasi toleransi yang konon katanya tinggi. Kedua gadis itu adalah siswa di sebuah sekolah menengah yang digambarkan sebagai kota “yang katanya paling toleran”. Penelepon yang mengakhiri persahabatan tersebut adalah seorang Muslim, penerima panggilan telepon yang hancur hatinya tersebut adalah seorang Kristen. Percakapan tersebut berlangsung dalam beberapa hari setelah keputusan pengadilan untuk menjatuhkan hukuman penjara kepada gubernur ibukota Indonesia, Jakarta, selama dua tahun dengan tuduhan penistaan agama.

Basuki Tjahaja Purnama, yang umumnya dikenal dengan Ahok, adalah minoritas ganda – etnis Tionghoa dan Kristen – dan anak laki-laki poster untuk pluralisme dan toleransi agama di Indonesia. Tiga tahun sebagai gubernur ibu kota negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia, menurut pendapat banyak orang, ditandai dengan perbaikan layanan publik yang luar biasa, seorang yangs ecara terbuka berani menyatakan perang melawan korupsi, dan sangat tidak mentoleransi inefisiensi. Seorang sopir taksi di Jakarta menyimpulkan semuanya dengan satu kalimat: “Ahok sangat, sangat baik. Satu-satunya alasan dia bukan gubernur lagi adalah karena beberapa orang tidak menyukai latar belakang agamanya. ”

Penjara Ahok telah mengirim gelombang kejut melalui kelompok minoritas agama di Indonesia, kalangan Muslim Sunni moderat dan pluralisme itu sendiri. Jika seorang gubernur berbakat dan tidak korup – yang merupakan jenis langka di Indonesia – dapat diturunkan dan dipenjara karena agama, nasib apa yang menanti orang-orang Kristen di akar rumput di negara tersebut, Muslim Ahmadiyah, Syiah, Budha, Hindu, Konghucu, dan orang Sunni yang tidak berideologi Islam radikal?

Tanda-tanda itu sudah mulai terlihat. Selama beberapa dekade terakhir saya sering berkunjung ke Indonesia, dan setiap kunjungan saya melihat gereja-gereja dan masjid-masjid Ahmadiyah ditutup paksa dan komunitas Ahmadiyah dan Syiah secara paksa mengungsi setelah desa mereka diserang oleh kelompok garis keras. Saya telah bertemu dengan perwakilan agama lokal tradisional yang menghadapi diskriminasi di sekolah dan layanan publik lainnya, dan dengan pengikut “Gafatar,” sebuah gerakan sinkretistik yang memadukan ajaran agama Ibrahim – Islam, Yudaisme dan Kekristenan – dan dilarang sebagai “menyimpang. “Tahun ke tahun, statistik menunjukkan, insiden intoleransi telah semakin meningkat; Ini bukan fenomena baru.

Gongnya, kasus Ahok menunjukkan erosi tradisi pluralisme Indonesia, dan memperlihatkan kerapuhannya. “Tradisi moderat Indonesia sudah tamat,” kata Andreas Harsono, peneliti Human Rights Watch di Jakarta. “Dalam sepuluh tahun kedepan, Indonesia bisa jadi seperti Pakistan. yang paling mengerikan, Indonesia bisa menjadi Suriah berikutnya. ”

Disarikan dari kolom Benedict Rogers

Advertisement
Click to comment
KOMENTAR ANDA
Jejaring.net tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana yang diatur dalam UU ITE.
Advertisement

Serial Drama Terbaru