Connect with us
mm

Published

on

Partai Demokrasi Perjuangan (PDIP) yang sejak awal sampai sekarang digawangi oleh Megawati Soekarnoputri, dulunya didasari oleh peristiwa berdarah 27 Juli 1996. Banyak sekali kader pro Megawati yang dikabarkan tewas ataupun hilang dalam perebutan kantor DPP partai PDI di Jl Diponegoro 58 Jakarta Pusat.


Peristiwa yang menyedihkan itulah sebenarnya yang membuat sosok Megawati langsung melejit. Kesempatan bagi Megawati untuk memimpin negeri ini mulai terbuka setelah presiden Habibie membuka keran demokrasi lebar-lebar.

Saat itu, PDIP dianggap sebagai satu-satunya partai yang merepresentasikan kepentingan wong cilik. Slogan yang diusung oleh para jurkam PDIP – pun kurang lebih sama.

Namun, berlalunya waktu, PDIP mulai kehilangan marwah \”ke-wongcilikan-nya\”. Perilaku dan gaya hidup para pimpinan partai tak ada bendanya dengan para elit partai lainnya. Cenderung mendahulukan kepentingan kelompok mereka ketimbang kepentingan wong cilik yang dulunya mati-matian mendukungnya. Gaya mereka mulai kelihatan otoriter dan \”kedemokratisannya\” sangat tidak terlihat.

Kasus Risma sang Walikota Surabaya yang sangat peduli dengan kepentingan rakyat Surabaya, digempur justru oleh para elit PDIP hanya demi menggolkan salah satu kader partai kesayangan elit DPP PDIP ke tampuk orang nomer satu di kota Surabaya.

Kenaikan BBM pada era presiden SBY ditentang dengan keras dan lantang oleh kader-kader elit PDIP, namun kenaikan BBM dimasa Jokowi didukung habis justru oleh PDIP yang dulunya sangat menentangnya.

Sekarang, manuver politik dalam kasus panas KPK VS Polri, PDIP mulai mengumbar boroknya. KPK yang menjadi harapan terakhir rakyat dalam pemberantasan korupsi diberangus dengan segala cara justru oleh para elit PDIP yang konon katanya partainya wong cilik. Lebih menyakitkan lagi ketika KPK dihabisi hanya gara-gara mencokok tersangka korupsi (gratifikasi) Budi Gunawan yang konon katanya merupakan calon Kapolri pilihan Megawati.

Manuver elit PDIP yang ngotot menginginkan Budi gunawan sebagai Kapolri benar-benar sangat menyudutkan Presiden Jokowi. Kenegarawanan sang pemimpin partai sangat lemah dan ego mengalahkan kepentingan rakyat yang sebagian diantaranya begitu fanatik mendukung partai banteng moncong putih ini.

Wong cilik yang seperti apa yang sebenarnya ingin dibela oleh PDIP? Perjuangan demokrasi seperti apa yang sedang mereka kemas?

 

Sumber gambar: wongcilikpools.blogspot.com

Advertisement
Click to comment
KOMENTAR ANDA
Jejaring.net tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana yang diatur dalam UU ITE.