Connect with us
mm

Published

on

Sayyid Qutb lahir pada tanggal 8 Oktober 1906, di sebuah desa bernama \”Musha\” di kota Qaha, ibukota provinsi Assyout di Mesir. Ia masuk sekolah dasar di Musha pada tahun 1912 dan menyelesaikan pendidikan dasar di tahun 1918. Ia drop out dari sekolah selama dua tahun karena revolusi Mesir pada tahun 1919. Ayahnya adalah Haj Qutb, orang yang sangat religiusdan sangat disegani di desanya, dan ibunya juga seorang wanita religius dari keluarga terkenal yang sangat peduli pada anak-anak dan lingkunagnnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di Musha, Sayyid Qutb pindah ke Kairo untuk pendidikan lanjut di mana ia tinggal bersama pamannya, Ahmad Hussain Osman, pada tahun 1920, saat ia berusia sekitar 14 tahun. Hebatnya, beliau hafal Al-Qur\’an saat berusia sekitar 10 tahun. Beliau kehilangan ayahnya saat sedang kuliah di Kairo, sehingga harus memboyong ibudanya untuk pindah bersama beliau ke Kairo. Tahun 1940, Ibunda tercinta akhirnya berpulang ke Rahmatullah.  Setelah kematian ibundanya, Sayyid Qutb merasakan perasaan kesepian yang luar biasa. Kesepian hatinya itu banyaak terlihat dalam tulisan-tulisanya yang akhirnya diterbitkan sebagai salah satu bab dalam buku berjudul Atatiaf Alarbaa\”.


Di Kairo,Sayyid Qutb menyelesaikan pendidikan SMA-nya dan terdaftar di perguruan tinggi pendidikan (IKIP), Darul Oloom, pada tahun 1929. Pada 1939 Sayyid Qutb lulus dengan gemilang dan menerima gelar Bachelor of Arts. Setahun berikutnya, beliau diterima sebagai staff kementerian pendidikan.

Enam tahun kemudian,tiba-tiba Sayyid Qutb meninggalkan pekerjaannya sebagai guru dan menghabiskan waktunya sebagai penulis lepas. Penyebab pengunduran dirinya adalah ketidaksetujuannya dengan kementerian pendidikan dalam banyak hal, terutama mengenai filosofi pendidikan dan seni sastra yang cenderung kurang Islami menurutnya.

Dari tahun 1939 sampai tahun 1951, tulisannya yang sarat dengan ideologi Islam semakin jelas arahnya. Sayyid Qutb menulis beberapa artikel tentang ekspresi artistik dalam Al-Qur\’an. Pada tahun 1948, bukunya tentang konsep keadilan sosial dalam Islam diterbitkan. Di dalamnya Sayyid Qutb menjelaskan bahwa keadilan sosial yang sejati hanya bisa diwujudkan dalam Islam.

Pada bulan November 1948, Sayyid Qutb dikirim ke Amerika Serikat untuk belajar kurikulum pendidikan. Sayyid Qutb menghabiskan dua setengah tahun di Washington DC., dan California. Di kedua kota metropolitan ini, Sayyid Qutb semakin menyadari betapa dunia telah digerogoti oleh sikap materialistik dalam seni sastra dan kurangnya spiritualitas dalam kaidah berkesenian.

Sayyid Qutb merasa sangat terganggu, dan akhirnya memilih meninggalkanAmerika Serikat dan kembali ke Mesir pada bulan Agustus 1950. Sekembali dari Amerika, Sayyid Qutb melanjutkan pekerjaannya sebagai guru dan inspektorat jendral di kementerian pendidikan sebelum akhirnya, lagi-lagi memilih untuk mengundurkan diri pada Oktober 1952, karena penyebab yang sama yaitu  perbedaan filosofi.

Periode 1951-1965 Sayyid Qutb akhirnya bergabung dengan Ikhwanul Muslimin. Ide-idenya yang cukup jelas tentang berbagai penyimpangan terhadap keadilan sosial dan politik / ekonomi yang berlaku di Mesir dan didunia saat itu. Sayyid Qutb mengusulkan perlunya reformasi yang Islami. Ketika Sayyid Qutb menjadi pemimpin redaksi surat kabar dari al Ikhwan beberapa buku-bukunya semakin banyak yang terbit, dan juga semakin kental denganideologi Islam.

Pada tahun 1954, Sayyid Qutb  ikut ditangkap ketika Ikhwanul Muslimin dituduh berusaha menggulingkan pemerintah, dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara. Sayyid Qutb meribgkuk di penjara Jarah dekat Kairo selama sekitar 10 tahun. Karena kondisi kesehatannya yang semakin memburuk, Sayyid Qutb dibebaskan. itupun karena campurtangan Presiden Irak saat itu, Abdul Salam Arif, yang begitu sangat mengagumi Sayyid Qutb.

Pada tahun 1965Sayyid Qutb kembali menerbitkan buku yang sangat terkenal judul berjudul Mallem Fittareek (Milestones). Justru karenanya, Sayyid Qutb ditangkap kembali dengan tuduhan berkonspirasi terhadap penggulingan Presiden Mesir, Abdul Nasser. Sayyid Qutb diputuskan oleh pengadilan Mesir untuk dihukum mati. Sayyid Qutb akhirnya dieksekusi dengan cara digantung pada 29 Agustus 1966. Sayyid Qutb tersenyum teduh ketika dieksekusi. Dieajahnya tidak terlihat samasekali ketakutan dan keputusasaan. Ini menunjukkan keyakinanatas ideologinya yang luar biasa.

Sepanjang hidupnya, Sayyid Qutb telah mewariskan kepada kita 24 buku, termasuk beberapa novel, beberapa buku tentang kritikal seni sastra. Sayyid Qutb akan selalu diingat untuk warisannya yang hebat, keyakinannya yang teguh, dan keberaniannya yang hampir tanpa batas demi ideologi Islami yang Beliau perjuangkan.

Copyright © Jejaring Net Online
Advertisement
Click to comment
KOMENTAR ANDA
Jejaring.net tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana yang diatur dalam UU ITE.