Connect with us
mm

Published

on

Dalam kehidupan, entah mengapa saya sering diuji dengan sesuatu yang keras sejak kecil. Tidak mendapatkan kasih sayang orang tua sejak umur 2 bulan. Tepatnya 1 bulan 21 hari. Hidup dalam kondisi luar biasa memprihatinkan sejak umur tersebut sampai dengan menjelang dewasa. Lecehan, fitnah, tudingan miring tidak ada habisnya. Hanya Kakek yang tidak lelah-lelahnya membesarkan hati saya. Selalu saja ada kata kunci yang digunakan beliau untuk menguatkan saya, ketika saya mulai hampir tumbang tak berdaya.

Yakinilah \”Hasbunallah Wa Nikmal Wakil\”, maka semuanya bisa saja terjadi. Baik itu kondisi yang akan membaik atau bahkan mungkin sebaliknya. Tetapi camkan dan resapi baik-baik, bahwa yang seolah-olah menjadi bencana bagimu, itu bisa jadi sebenarnya sesuatu yang terbaik pilihan Allah bagi jalan kehidupanmu. Dan itulah sebaik-baiknya pertolongan Allah padamu. Itu ucapan klise Kakek yang sering di dengungkan ke kuping saya, untuk menguatkan hati saya.


Saat itu, logika saya hampir tidak dapat menerimanya sedikitpun. Bahkan sampai sekarangpun saya masih sangat kesulitan untuk memahami dengan sebenar-benarnya, memaknai sejelas-jelasnya, dan apalagi mempraktekkannya secara ikhlas sepenuhnya. Mudah untuk dilafadzkan, mudah untuk diartikan, tetapi sangat tidak mudah untuk dijalankan.

Dulu, ketika putus dari pacar, saya sempat shock karena memang saya mencintai. Bahkan sangat. Hampir tidak bisa saya terima secara logika, ketika hal itu harus terjadi. Saya melafadzkan do\’a tersebut diatas setiap hari sesudah sholat. Selama berhari-hari bahkan hampir satu bulan. Kemudian apa jawaban dari do\’a saya? Bukannya pacar saya balik, tapi malah minggat dengan cowok lain.

Saya dalam hati protes keras sebanarnya. Lha gimana coba. Sholatnya menurut saya juga gak salah. Puasa sunah juga saya jalankan, adab berdo\’a juga saya terapkan. Eeeee………….lha kok mbleset jauh hasilnya. Apa nggak tambah puyeng kepala saya. Waktu itu saya sempat maido dalam hati pada advis kakek saya. 

Berlalunya waktu, ternyata memang ada jawaban dari do\’a tersebut yang saya buktikan sendiri. Akhirnya gak ada hujan-gak ada angin, bisa kenalan dengan cewek yang jauh lebih manis, perilakunya jauh lebih anggun, sederhana, dan awet manis sampai sekarang. E lha waktu itu pas saya ajak tunangan sekalian kok ya mau tho? Akhirnya jadi deh si manis sebagai ibunya anak-anak sampai sekarang. Sementara mantan pacar saya yang akhirnya kabur sama cowok lain, waktu ketemuan di saat lebaran kemarin, karoserinya sudah hancur-lebur, dan ternyata suaminyapun bukan cowok yang membawanya kabur waktu kami putus dulu.

Sekitar 2 tahun kemarin, saya juga diuji oleh gula darah yang mencapai angka 700an, sementara tekanan darah minimal 170an. Badan jadi kering, mata soak, kalau jalanpun miring-miring. Sudah begitu, anak lelaki tercinta saya sakit keras. Akhirnya karena istri nunggu anak, saya harus mencari obat ke apotek. Karena mata saat itu soak, saya kejengkang, dan kaki sebelah kiri retak, bahkan agak bengkok. Entah kenapa saya tidak merasa sakit sedikitpun, bahkan tengah malam, untuk menggendong Satya ke rumah sakit Morangan, bisa saya lakukan sendiri. Nyetir sendiri, saya gendong sendiri, karena ibunya sudah hampir pingsan akibat sangat kelelahan. Begitu sampai di ruang UGD, dan tahu anak saya ditangani oleh dokter, saya baru tumbang. Black out. Jadi deh, yang diantar ke UGD satu orang, tetapi yang dirawat harus dua orang (ayah-anak).

Saya waktu itu hanya bisa  ndremimil do\’a pendek diatas. Mungkin itulah yang menyebabkan rasa sakit saya terlupakan. Gimana gak ndremimil. Lha wong duit gak ada. Kondisi tubuh sudah low bat. Mata jereng. Semua garis yang lurus terlihat bengkok-bengkok gak karuan.

Lhah, ternyata ujiannya belumlah cukup. Masih ngathang-athang, kontrakan mau habis, duit gak ada, kok ya ada info bahwa duit uang muka perumahan saya dilarikan salah satu staf pengembangnya. Saya tagih janjinya, mbundhet gak karuan. Akhirnya saya meja hijaukan. 

Kondisi baru sakit, duit cekak, harus berurusan bolak-balik ke Polsek dan akhirnya pengadilan. Mau minta tolong orang juga gak enak. Akhirnya ya kembali cuma bisa ndremimil lagi. Belum juga cukup ternyata ujiannya. Akhirnya, hukum saya menangkan walaupun harus bolak-balik sabar menunggu sidang yang sering di tunda-tunda prosesnya gak karuan. Walaupun duit gak balik, proses pidana harus dijalani oleh staf tersebut.

Dan nikmat luar biasa yang saya terima adalah kesehatan saya membaik dengan sangat cepat. Mata berangsur-angsur normal, gula darah turun dengan sangat cepat dan menuju normal, demikian juga tekanan darah. Jantung yang ikutan bermasalah saat itu, menjadi membaik hampir tanpa obat. Pankreas yang semula macet, bisa berproduksi lagi secara normal. Organ dalam, dari hasil cek kesehatan menyeluruh saat itu mengalami kesembuhan yang luar biasa cepat. Dan semuanya kesembuhan tersebut, nyaris tanpa obat. Mana ada duit buat nebus obat saat itu???

Sekarang, saya juga sedang mendapatkan ujian lagi. Masalah perumahan ternyata menjadi sandungan yang cukup besar bagi kehidupan kami sekeluarga. Lagi-lagi, saya harus mempersiapkan diri untuk berhadap-hadapan dengan pengembang yang jauh lebih besar kekuatannya daripada yang dulu pernah saya hadapi.

Ikhtiar, tetap harus dijalankan. Tetapi sebagai manusia, kami harus sadar betul terhadap segala kekurangan dan keterbatasan kami. Maka jalan satu-satunya, ya ndremimil lagi. \”Cukuplah Allah sebagai penolong kami\”. 

Advertisement
Click to comment
KOMENTAR ANDA
Jejaring.net tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana yang diatur dalam UU ITE.