Connect with us

Opini

Kesamaan PKS di Koalisi Oposisi Dengan PKB di Koalisi Jokowi

Diunggah:

on

Kesamaan PKS di Koalisi Oposisi Dengan PKB di Koalisi Jokowi
Sumber Gambar: inilah.com

Kedua partai ini sama-sama ngotot untuk mengusung Cawapres dari kader masing-masing. PKS mengusung Ketua Majelis Syuro PKS, Salim Segaf al Jufri sebagai Cawapres Prabowo. Sedangkan di kubu PKB mengusung Muhaimin Iskandar (Cak Imim) sang Ketua Umumnya sebagai Cawapres Jokowi.

Keduanya sama-sama menggunakan senjata mewakili pimpinan kelompok Islam baik Ulama ataupun Kyai. Kalau PKS, mengandalkan Ijtima dari GNPF Ulama, sementara PKB mengandalkan pendapat para Kyai. Keduanya sama-sama mengancam dengan cara masing-masing jikalau jagonya tidak diusung sebagai cawapres.


PKS memilih akan abstain jikalau Salim Segaf al Jufri tidak dipilih sebagai cawapres Prabowo. Walaupun kemudian diralat bahwa pernyataan tersebut hanyalah pernyataan pribadi dari Direktur Pencapresan PKS, Suhud Alynudin. Sementara PKB melalui Wasekjen PKB, Jazilul Fawaid mengancam untuk tidak mengusung Jokowi jikalau Cak Imin yang dikaim merupakan representasi dari mandat ulama, tidak digandeng oleh Jokowi sebagai Cawapres.

Koalisi kok menjadi ajang tawar-menawar bahkan cenderung menjadi ajang untuk memaksakan kehendak masing-masing partai. Mengapa tidak mengedepankan koalisi tanpa syarat, yang jauh lebih elegan dan nampak ikhlas dalam mendukung jago Capres masing-masing. Keduanya sama-sama membuat ruwet dengan mengeluarkan ancaman pada koalisi masing-masing.

Koalisi kak kayaknya menjadi dengan “syarat dan ketentuan berlaku”, nampak tidak ikhlas dan mengedepankan kepentingan golongan, kelompok ataupun partainya masing-masing. Sah-sah saja mengedepankan kepentingan partai masing-masing. Itu adalah keniscayaan dalam politik, namun kalau nampak sangat memaksa dan bahkan berbau mengancam, apakah ini yang dinamakan sebagai koalisi yang sehat?

Bukankah ini merupakan sikap yang justru kontra produktif bagi partai masing-masing? Rakyat akan membaca siapa yang tulus dan siapa yang mengedepankan kepentingan golongan, kelompok atau partainya sendiri. Suatu manuver politik yang menggelikan dan bagi sebagian kalangan malah justru nampak ngisin-isini (memalukan).

Advertisement
Click to comment
KOMENTAR ANDA
Jejaring.net tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana yang diatur dalam UU ITE.
Advertisement

Featured Products