Connect with us
mm

Published

on

Pada sambutan awalnya, SBY menyoroti dan menyatakan ketidak setujuannya dengan Presidential Threshold (PT) 20 persen. Namun, SBY mengakui akhirnya kalah suara di parlemen. Walaupun begitu menurut SBY PT 20 persen itu, tidaklah tepat.

Pertama adalah komitmen bersama untuk mendukung Pemilu 2019 yang berlangsung damai, jujur dan adil. “Kami juga sepakat untuk ikut mencegah jangan sampai politik identitas secara ekstrim mendominasi pelaksanaan Pemilu agar demokrasi kita tumbuh berkembang semakin berkualitas,” kata SBY.


“Kami berharap negara menjamin kebebasan berpendapat selama Pemilu berlangsung ini penting agar peserta Pemilu bisa menyuarakan suaranya tanpa dibayangi sikap dianggap melampaui kepatutannya karena kami tahu ada batas-batasnya. Dan jika Pemilu 2019 mendatang berlangsung jujur dan adil maka rakyat kita semua wajib mengakui dan menerima siapapun yang akan jadi pemenangnya,” lanjut SBY.

“Kedua kami membahas dengan serius perkembangan situasi nasional terutama yang dihadapi oleh rakyat kita, rakyat Indonesia 4 tahun terakhir ini,” kata SBY.

Terkait ekonomi, keduanya memandang perkembangan dan pertumbuhan ekonomi selama empat tahun terakhir belum memiliki dampak signifikan terhadap masyarakat. Misalnya, kata SBY, lapangan pekerjaan, pengurangan kemiskinan dan keseimbangan pembangunan manusia dan infrastuktur, serta situasi moneter.

Kemudian kebijakan pajak yang dipadang tidak memberikan dampak positif secara langsung ke rakyat. Dan yang paling penting menyangkut ekonomi dan rakyat adalah penghasilan atau income golongan orang mampu golongan orang miskin.

Ketiga atas dasar poin-poin pembicaraan pertama dan kedua tadi, Demokrat – Gerindra menyatakan jalan membangun koalisi “terbuka lebar”…., pungkas SBY.

Sumber: metrotvnews.com

Advertisement
Click to comment
KOMENTAR ANDA
Jejaring.net tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana yang diatur dalam UU ITE.