Connect with us

Peristiwa & Opini

Dalam Masalah Konflik Suriah, Kartu Penentunya di Tangan Putin

Published

on

Dalam Masalah Konflik Suriah, Kartu Penentunya di Tangan Putin
Sumber Gambar: rightlog.in

Penyerahan pasukan pemberontak di Suriah barat daya, setelah jatuhnya Ghouta timur dan keberhasilan pertempuran lainnya, memperkuat harapan bahwa tidak ada yang dapat menyangkal Bashar al-Assad sebagai pemenang dalam perang sipil Suriah.

Tetapi restorasi fisik wilayah tidak selalu berarti pemulihan otoritas politik bagi Assad. Saat ini, Assad dikepung oleh kelompok-kelompok pemberontak dan negara tetangga yang mengincar untuk menghancurkan pemerintahannya dan dikucilkan oleh dunia internasional. Pertanyaan sebenarnya adalah setelah selamat dari perang, dapatkah Assad selamat dari semua ancaman?


Assad sangat erat hubungannya dengan Rusia, yang intervensi militernya tahun lalu menyelamatkan ketika pemerintahan Assad sedang dalam posisi sangat rawan hancur, dan juga Iran, yang dalam waktu yang tepat mampu menyelamatkannya. Assad sampai saat ini tetap bergantung pada dukungan kedua negara ini sampai dengan saat ini.

Ada juga masalah gesekan dengan tetangganya Turki. Dalam operasi lintas batas tahun 2016 terhadap pasukan Kurdi Suriah, pasukan Turki menduduki sebuah wilayah di sebelah barat Eufrat yang terus mereka duduki sampai dengan sekarang. Turki sejak itu menguasai wilayah Afrin sampai ke sekitar utara Aleppo.

Milisi Kurdi secara otonom masih memegang kekuasaan di Suriah timur dan utara-timur, didukung oleh sekitar 2.000 pasukan Amerika Serikat dengan kekuatan udaranya yang luar biasa. Amerika Serikat saat ini sedang fokus untuk memburu ISIS, tetapi kehadiran militer Amerika Serikat memberikandampak strategis yang lebih besar.

Dan kemudian ada sisa masalah bagi Assad, yaitu provinsi Idlib, di utara-barat Suriah, di mana pemberontak selatan melarikan diri. Idlib telah menjadi tempat perlindungan terakhir bagi lebih dari dua juta warga sipil terlantar. Ini juga merupakan basis bagi jihadis garis keras (di dominasi afiliasi Al-Qaeda) dan yang jelas akan selalu menentang rezim sekuler.

Jika Assad ingin mengakhiri perang sipil yang menghancurkan Suriah, Idlib adalah target utama bagi Assad dan sekutunya harus menyerang berikutnya. Ini adalah prospek yang menakutkan PBB dan organisasi bantuan. Mereka takut pengulangan metode serangan udara Ghouta yang sangat mematikan, termasuk diantaranya bom barel dan serangan senjata kimia.

Laman: 1 2

Continue Reading
Click to comment
KOMENTAR ANDA
Jejaring.net tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana yang diatur dalam UU ITE.