Connect with us

Mancing Mania

Uji Nyali di Galatama Bawal Banaran

Published

on

Uji Nyali di Galatama Bawal Banaran
Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Saya sudah lama sekali tidak mancing harian bawal di kolam Banaran (Sukir). Nyaris 4,5 tahun saya tidak ke sini, karena kena stroke 4,5 tahun yang lalu dan terakhir dihajar jantung saya juga sekitar 3 bulan yang lalu.

Mendapatkan informasi dari Bakso (nama asli saya nggak tahu), katanya sudah berubah menjadi galatama bawal. Saya menjadi penasaran dan bergegas nyamperi ke lokasi mancing ini.


Awalnya saya agak-agak lupa kolam ini. Namun dengan bertanya di warung arah ke kolam ini, saya ditunjukkan lagi lokasi pastinya.

Mengapa saya katakan uji nyali, karena suasana kolamnya agak-agak horor. Habis, lokasi kolam tepat di belakang makam dan jalannya pun lumayan curam dan licin. Kalau pakai sepeda motor, meleng sedikit bisa nyemplung ke sungai pembatas kolam dengan makam.

Hari pertama berkunjung kembali, Mas Sukir pemilik kolam pun sudah lupa nama saya. Di kolam ini, nama sama oleh Mas Sukir berubah menjadi Pak Kemi. Padahal, nggak ikut mbancaki, Mas Sukir mengganti nama saya seenaknya. Maklum, karena sudah nyaris 4.5 tahun saya nggak pernah nyambangi kolam ini.

Sejak kapan, nama saya Pak Pri berubah serta-merta menjadi Pak Kemi. Akhirnya saya beritahu Mas Sukir bahwa nama panggilan saya itu Pak Pri. Tapi nama lengkap saya tidak saya beritahu.

Hari pertama saya mencoba ikut mancing, nafas langsung ngap-ngapan. Lha gimana lagi, umpan langsung diembat sama bawal lumayan besar. Strike beberapa kali, saya langsung lelah dan lemes nggak keruan. Sesi kedua, saya nekat ikut dan hasilnya saya nggak berani melanjutkan sesi tersebut, padahal waktu masih panjang.

Strike ikan ke tiga yang lumayan besar saya langsung nggak kuat lagi memegang joran. Bahkan hanya untuk berdiri pun saya harus pegangan tiang kolam.

Namun, dibalik suasana horornya, kolam ini relatif sejuk, karena disekitarnya ditumbuhi pohon bambu dan sengon. Suasana alamnya pun cukup asri, dan satu hal yang saya suka adalah kolamnya relatif alami, karena tidak ditembok dan masih berdinding bambu.

Di kolam ini, saya banyak bertemu kembali dan bercanda kembali dengan beberapa kawan lama yang sudah kasepuhan. Yang secara usia jauh diatas saya (jauh lebih sepuh dari saya), maka saya anggap kasepuhan.

Continue Reading
Click to comment
KOMENTAR ANDA
Jejaring.net tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana yang diatur dalam UU ITE.
Advertisement