Connect with us

Peristiwa & Opini

7 Tahun Sudah Perang Suriah, Namun Belum Ada Tanda-Tanda Akan Mereda

mm

Published

on

7 Tahun Sudah Perang Suriah, Namun Belum Ada Tanda-Tanda Akan MeredaPertempuran di Suriah memasuki tahun kedelapan pada hari Kamis. Sebuah konflik yang awalnya dimulai saat sebuah pemberontakan damai melawan rezim...

Pertempuran di Suriah memasuki tahun kedelapan pada hari Kamis. Sebuah konflik yang awalnya dimulai saat sebuah pemberontakan damai melawan rezim Presiden Bashar Assad meningkat menjadi perang saudara dalam skala penuh yang sekarang merupakan salah yang paling mematikan dalam abad ini.

Sepanjang konflik Suriah memungkinkan ekstremis ISIS berkembang, menciptakan krisis pengungsi terburuk di dunia sejak Perang Dunia II dan memperburuk perebutan kekuasaan dalam skala internasional.


Setelah tujuh tahun pertumpahan darah tanpa henti, berikut adalah betapa mengerikannya dampak dari perang Suriah baik bagi Suriah sendiri, kawasan sekitaran Suriah bahkan mungkin bisa merembet ke seluruh dunia.

Mengapa perang dimulai?

Masalah ekonomi dan kurangnya kebebasan menyebabkan kebencian terhadap pemerintahan otoriter Assad. Pasukannya menanggapi pemrotes pada tahun 2011 dengan membunuh ratusan dari mereka dan memenjarakan lebih banyak lagi karena pemberontakan pro-demokrasi lainnya yang dikenal sebagai Musim Semi Arab (Arab Spring) terjadi di Timur Tengah.

Saat kemarahan publik semakin meningkat, kekacauan yang berkembang menarik pejuang ekstrimis di seluruh wilayah, termasuk sisa-sisa al-Qaeda di Irak dimana sebuah sempalannya kemudian mengubah diri menjadi ISIS. Akhirnya, sebuah pemberontakan Suriah dari banyak faksi terjadi dalam melawan rezim Assad. Beberapa dari faksi-faksi pemberontak ini akhirnya mulai berkelahi satu sama lain serta pasukan militer Assad karena gesekan yang berbau sektarian, yang semakin mempersulit dan memperumit situasi konflik di Suriah.

Dampaknya?

Angka-angka dibawah ini berbicara sendiri betapa ngerinya akibat dari perang berkepanjangan di Suriah:

  1. 400.000 orang Suriah telah terbunuh, menurut perkiraan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
  2. Lebih dari setengah dari 20 juta penduduk Suriah, populasi pra-perang telah mengungsi.
  3. 5,5 juta orang Siria telah melarikan diri ke luar negeri – 95% di antaranya hanya di lima negara (Turki, Lebanon, Yordania, Irak dan Mesir), menurut kelompok-kelompok LSM kemanusiaan.
  4. 400.000 penduduk sipil terjebak di daerah pinggiran kota Damaskus (Ghouta Timur), karena pemerintahan Assad melakukan pengeboman yang tak kenal ampun untuk merebut kembali daerah tersebut.
  5. Dari sekitar 10 juta anak di Suriah, 8,6 juta sangat membutuhkan bantuan, naik lebih dari sekitar setengah juta setelah tahun pertama perang Suriah. Hampir 6 juta anak mengungsi atau tinggal sebagai pengungsi, dan sekitar 2,5 juta anak lainnya tidak bisa lagi bersekolah.
  6. Sekitar sepertiga perumahan Suriah dan setengah dari fasilitas pendidikan dan medisnya telah hancur, menurut laporan Bank Dunia 2017.

Negara mana saja yang terlibat dalam perang Suriah?

Negara-negara teluk seperti Qatar, Saudi, Bahrain, Uni Emirat, Yordania dan termasuk Turki juga ikut terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam konflik Suriah. Mereka masing-masing mendukung, melatih, mendanai bahkan memasok senjata untuk masingmasing faksi pemberontak yang mereka dukung.

A.S. juga akhirnya menerjunkan diri dan ikut terlibat semenjak pemerintahan Obama sampai dengan pemerintahan Trump. A.S. mulai mempersenjatai dan memberikan perlindungan kekuatan udara pada tahun 2014 untuk kelompok pemberontak anti-Assad yang juga sekaligus melakukan perang melawan ISIS. Washington berangsur-angsur juga mulai fokus untuk bekerjasama dengan milisi Kurdi Suriah, yang akhrnya terbukti menjadi salah satu mitra terkuat koalisi pimpinan A.S. dalam perang melawan ISIS.

Setelah dukungan tersebut muncul kekuatan baru yang serta-merta mengubah peta kekuatan dalam perang melawan Assad. Hal yang tiba-tiba mengubah arus tersebut adalah kehadiran Rusia – sekutu lama Suriah – yang kemudian ikut memasuki konflik pada tahun 2015 untuk menopang rezim Assad yang mulai semakin limbung. Dibalik itu ada salah satu alasan kuat lainnya dari Presiden Rusia, Vladimir Putin yang ingin menegaskan kekuatan negaranya di pentas dunia.

Iran juga ikut terlibat dalam konflik Suriah dengan menyediakan pasukan darat yang sangat dibutuhkan untuk rezim Assad, menyalurkan uang dan pejuang melalui kelompok militan Hizbullah yang berbasis di Libanon untuk lebih membangun kehadiran yang kuat di wilayah tersebut.

Israel secara tidak langsung terlibat karena khawatir Iran bisa menggunakan wilayah Suriah untuk melakukan serangan ke Israel atau setidaknya mentransfer senjata ke Hizbullah. Iran adalah musuh bebuyutan Israel dan telah pernah bersumpah untuk menghancurkan dan menghapus Israel dari muka bumi.

Turki, tetangga utara Suriah, memperluas operasi darat ke Suriah, karena takut konflik diperbatasan Suriah – Turki tersebut dapat mengompori penduduk besar Kurdi Turki untuk menuntut kemerdekaan. Dalam beberapa hari terakhir, tentara Turki telah mengepung kota Afrin yang dikuasai Kurdi, yang akhirnya memaksa ratusan bahkan ribuan warga sipil Kurdi untuk melarikan diri.

Dengan begitu banyaknya kekuatan internasional yang beroperasi sedemikian rumit dan ruwetnya, ada bahaya luar biasa bahwa jikalau terjadi kesalahan kecil sekalipun bisa memicu konflik yang lebih besar dan jauh lebih mengerikan di luar Suriah bahkan di seluruh kawasan.

Sumber Video: usatoday.net

Click to comment
KOMENTAR ANDA
Advertisement