Connect with us

Fiksi

Senangnya Hati Ini Ketika Ditemani Istri Tercintaku Bersama Ucik Sahabatku

Published

on

Senangnya Hati Ini Ketika Ditemani Istri Tercintaku Bersama Ucik Sahabatku
Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Hanik Luciati (Ucik) adalah sahabatku semenjak kelas 6 SD, karena dari kelas 1-5 SD saya sekolah di Kudus. Kebetulan kami sama-sama sekolah di SD 2 Kutoharjo Rembang (Sebelah Timur alun-Alun Kota Rembang).

Ucik saat itu rambutnya panjang melebihi punggung, sukanya di kuncir kuda, kulitnya putih cerah dan menambah anggun penampilannya. Sejak SD, Ucik jarang dan agak sulit diajak bicara, namun jika sudah kenal makanya renyahnya dalam bicara luar biasa.


Kami satu sekolah terus sampai ke jenjang SMP dan bahkan dapat dikatakan hampir satu kelas terus. Saya sering menunggunya di tepat jalan keluar dari Gang Kulit, Sawahan Rembang untuk bersepeda bersama ke sekolah.

Kami mulai berpisah semenjak SMA, karena sekolah pada SMA yang berbeda. Saya di SMA 1, sementara Ucik melanjutkan ke SMA 2. Namun sesekali masih bisa berangkat sekolah bersama karena kedua sekolah pada jalur yang relatif sama.

Saat kuliah, kami benar-benar terpisah. Saya melanjutkan studi di Undip, sementara Ucik melanjutkan Studi di IPB, Bogor. Hanya sesekali kami sempat berkirim surat. Saya benar-benar merasa sangat kehilangan saat itu.

Sebenarnya di waktu SMA saya juga mendapatkan sahabat dengan style yang sama-sama berambut panjang dengan kuncir seperti ekor kuda, pendiam, lembut dan manis kalau tersenyum. Namanya Siti Sholikhah (Holik). Namun, karena nggak ada di foto ya nggak saya bahas.

Akhirnya berlalunya waktu, saya menemukan gadis lain yang berambut panjang dengan kuncir ekor kuda, lugu, pendiam cenderung pemalu, hitam manis dan membuat hati saya selalu berdebar, jika berpapasan dengannya. Nampaknya, Kakek dan Nenek tersayang membaca gelagat tersebut, dan nampak sangat cocok dan berkenan dengan gadis mungil, hitam manis berambut panjang, dengan kuncir ekor kuda dan sedikit poni di depan tersebut.

Karena melihat gelagat restu Kakek dan Nenek, akhirnya kuberanikan diri menembaknya saat dia sedang olahraga sekolah berlari di selatan jalur sekolahnya. Alhamdulillah, dengan perjuangan panjang yang tak kenal lelah, dia berhasil kudapatkan.

Gadis itu adalah Suindahati (Indah), yang sampai sekarang menjadi tambatan hati selamanya sampai akhir hidup saya. Dia jugalah yang menjadi ibu dari ketiga anak-anakku.

Saat pulang dari mondhok seminggu di Puri Husada akibat serangan Jantung, saya benar-benar merasa senang dan bahagia karena ditemani istri tercinta dan Ucik Sahabatku.

Click to comment
KOMENTAR ANDA
Advertisement