Connect with us

Edukasi

Dari Ndeso Untuk Indonesia

Published

on

Kata Ndeso seakan mengesankan sesuatu yang sangat kampungan, primitif dan penuh ketidakberdayaan. Bahkan karena konotasinya kampungan istilah ndeso terkadang digunakan untuk sebagai kata umpatan kepada orang yang berperilaku kampungan. Meski ndeso, namun dalam kenyataannya ternyata banyak orang sukses yang memang asalnya dari ndeso (kampung).

Dalam kesempatan silaturahmi dan TOT Pendamping BUMDES di Polinela Lampung minggu lalu para narasumber yang hadir ternyata semua dilahirkan dan dibesarkan di kampung (ndeso). Terdapat empat pembicara yang hadir saat itu. Pembicara pertama Rudy Suryanto, S.E., M.Acc., Ak., CA., sebagai penggagas bumdes.id, dan sekolah manajemen bumdes berasal dari kampung Piyungan perbatasan Bantul dan Gunung Kidul. Saat ini Rudy Suryanto tercatat sebagai dosen di UMY yang sedang menempuh Program Doktor di Malaysia.


Pembicara kedua adalah Yanni Setiadiningrat, seorang sekdes dari kampung Ponggok yang memiliki mimpi hebat dalam membangun desanya. Dengan kegigihannya bersama tim bisa mewujudkan kampung ndesonya menjadi kampung yang cukup terkenal di Indonesia dengan ikon Umbul Ponggok yang terletak di Klaten Jawa Tengah. Di bawah timnya Pak Yanni, kini Umbul Ponggok tercatat sebagai satu BUMDES terbaik di Indonesia dengan pendapatan pertahun tidak kurang 13 milyar rupiah.

Nara sumber ketiga yang juga lahir dan dibesarkan di ndeso adalah Dr. Nurdiono, M.M., CPA., Ak., CA. Nara sumber ini asalnya dari kampung Ngawi Jawa Timur, yang sekarang sudah menjadi warga Lampung. Dengan kegigihannya mampu mengembangkan diri dan memiliki prestasi yang membanggakan. Nurdiono tercatat sebagai dosen FEB UNILA, dengan pendidikan S3 dari FEB UGM. Selain sebagai dosen juga pelatih bisnis yang hebat diantaranya rumah sakit, televisi, kampus Akper dan Akbid Pancabhakti, dll.

Pembicara keempat memaparkan sistem pelaporan keuangan BUMDES yaitu Dr. Junaidi, M.Si., Ak., CA., CSRS yang kesehariannya sebagai dosen di UTY. Junaidi juga lahir dan dibesarkan di sebuah kampung di Imogiri Bantul Yogyakarta. Dengan keuletannya dia mampu meraih doktor di FEB UGM. Selain mengajar di kampusnya dia juga sebagai penulis buku, peneliti, dan menjalankan bisnis. Saat ini Junaidi juga terus mengembangkan diri dengan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak.

Selain empat pembicara ternyata Direktur Polinela yaitu Dr. Ir. Sarono, M.S.i.juga berasal dari kampung Cawas Klaten. Pak Sarono memiliki komitmen yang kuat dalam membangun desa dengan jargon Polinela kampus sahabat petani. Bahkan dalam sambutanya di acara TOT Pendamping BUMDES Pak Sarono langsung menggagas untuk membentuk pusat studi BUMDES di kampusnya.

Salah satu yang dapat dilakukan dalam memperkuat perekonomian desa adalah dengan dibentuknya badan usaha milik desa. Kami akan selalu bersinergi untuk mengembangkan ndeso agar semakin berkiprah dalam mewujudkan kejahteraan masyarakat desa. Dengan komitmen yang kuat dan kerjasama yang baik dengan semua pihak kami yakin bahwa ekonomi masyarakat desa kan terus meningkat. Sehingga ndeso (desa) akan mampu menjadi barisan terdepan dalam memperkuat perekonomian Indonesia.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment
KOMENTAR ANDA
Advertisement