Connect with us
Indonesia Ingin di-Mesir-kan Oleh Sekelompok Orang dan Ormas Indonesia Ingin di-Mesir-kan Oleh Sekelompok Orang dan Ormas

Analisis

Indonesia Ingin di-Mesir-kan Oleh Sekelompok Orang dan Ormas?

Published

on

Gerakan Ikhwanul Muslimin Revolusi Mesir pada tahun 2011. Kesuksesan pertama dari gerakan  Ikhwanul Musliminini adalah kesuksesan politis terbesar semenjak gerakan ini didirikan oleh Hasan al-Bana. Selepas revolusi ini, kemudian muncul partai baru yang diberi nama “the Freedom and Justice Party”, yang berafiliasi kuat dengan gerakan Ikhwanul Muslimin.

Partai baru ini sukses memenangkan separoh dari kursi parlemen dan berhasil menempatkan Muhammad Morsi dalam tampuk kepresidenan Mesir. Namun Presiden Mohammad Morsi digulingkan setelah demonstrasi massal kaum nasionalis dalam waktu satu tahun.

Ratusan anggota partai yang digawangi oleh Ikhwanul Muslimin terbunuh, dan ratusan pemimpinnya termasuk Morsi masuk penjara. Pada bulan September 2013, pengadilan Mesir melarang Ikhwamul Mulimin dan seluruh sayap organisasinya untuk beroperasi di Mesir.

Pergerakan ini berhasil menumbangkan kekuasaan Hosni Mubarak dengan mengemas sentimen agama yang sangat kental. Salah satu slogannya adalah persatuan dan kebangkitan umat Islam, yang kemudian dilakukan revolusi damai.

Gerakan Ikhwanul Muslimin ini awalnya sukses menumbangkan Presiden Tunisia, Zine Abidine Ben Ali dan kemudian merembet gerakannya ke Mesir, dan terbukti berhasil menumbangkan Hosni Mubarak. Gerakan yang nyaris sama juga berhasil menumbangkan Gaddafi di Libya, dan hampir berhasil di Suriah, kalau Rusia tidak ikut campur dengan kekuatan militernya.

Nah, kata kunci persatuan dan kebangkitan umat yang kemudian dikemas menjadi revolusi damai nampaknya akan dicoba untuk diterapkan di Indonesia, walaupun akhirnya juga tetap mengerikan berdarah-darah. Namun untungnya, ada perbedaan yang sangat besar dalam banyak hal antara Indonesia dengan Tunisia, Mesir, Libya maupun Suriah.

Plularisme di Indonesia sangat beragam dan jauh lebih kompleks ketimbang Tunisia, Mesir, Libya ataupun Suriah. Kaum Nasionalis ataupun yang Nassionalis Agamis termasuk kelompok Muslim Moderat sangat besar di Indonesia. Bahkan sangat mungkin merupakan kelompok mayoritas dari keseluruhan populasi di Indonesia.

Politik belah bambu yang banyak diinginkan oleh kelompok tertentu nampaknya tidak terlalu mudah untuk mencapai tujuan utamanya, kecuali jikalau mampu menarik kekuatan militer ke pihak tersebut. Berbagai usaha telah dilakukan termasuk mengelus-elus militer dan Panglima, namun TNI dan Panglima nampaknya tidak akan mudah untuk dibujuk rayu dengan model seperti ini.

Gerakan demo berjilid-jilid yang dari awal pernah banyak dicurigai sasaran utamanya adalah pelengseran Presiden Jokowi nampaknya akan dibangkitkan kembali. Dalam tanda kutip, Presiden Jokowi akan di-Hosni Mubarak-kan seperti di Mesir, atau minimal di-Zine Abidine Ben Ali-kan kayak di Tunisia.

Sentimen agama terhadap kaum minoritas Kristen Koptik seperti di Mesir mulai dibangun kembali di Indonesia. Kemasanya adalah dengan menggunakan bahasa kebangkitan PKI dan sentimen atas ras minoritas tertentu.

Kasus Ahok adalah salah satu pintu masuk untuk me-Mesir-kan Indonesia. Walaupun Ahok sudah divonis bersalah dan harus dikurung selama dua tahun, nampaknya sentimen ini akan tetap dipelihara dengan berbagai kemasan salah satunya adalah dengan acara reuni-reunian.

Menurut hemat saya, kasus Ahok akan tetap selalu dipelihara, karena merupakan komoditas politik yang sangat seksi dan paling mudah untuk menggerakkan massa. Kemasan penistaan agama, asing, aseng, dan asong termasuk kebangkitan PKI adalah komoditas ikutan yang tak kalah laris manisnya pada saat-saat ke depan, apalagi menjelang Pilpres 2019.

Semoga saja Indonesia tidak terbelah oleh ulah kelompok-kelompok tertentu yang jelas dimotori oleh orang-orang yang sedang sangat haus kekuasaan. Apalagi jikalau sampai berujung menjadi revolusi berdarah-darah seperti Suriah.

Sumber Gambar: al Jazeera

Continue Reading
Comments