Connect with us

Peristiwa & Opini

Jejak Kedahsyatan Letusan Gunung Agung Dalam 200 Tahun Terakhir

mm

Published

on

Jejak Kedahsyatan Letusan Gunung Agung Dalam 200 Tahun TerakhirKetinggian Gunung Agung berkurang dari 3.142 mdpl menjadi 3.014 mdpl akibat letusan itu. Masyarakat Bali yang menyucikan Gunung Agung karena...

Ketinggian Gunung Agung berkurang dari 3.142 mdpl menjadi 3.014 mdpl akibat letusan itu. Masyarakat Bali yang menyucikan Gunung Agung karena letaknya tepat di atas Pura Suci Besakih, tak hentinya memanjatkan doa pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Gunung vulkanik tipe monokonik strato ini sempat tidur panjang, 120 tahun hingga meletus tahun 1963. Sejak tahun 1800-an, setidaknya Gunung Agung telah 4 kali meletus, tahun 1808 Gunung Agung melontarkan abu dan batu apung. Kemudian 13 tahun berselang, Gunung Agung kembali meletus tahun 1821.


Dua dekade kemudian pada 1843 Gunung Agung meletus didahului sejumlah gempa bumi dan memuntahkan abu vulkanik, pasir, dan batu apung. Terakhir 120 tahun kemudian, pada 1963 Gunung Agung meletus dahsyat, 1.148 jiwa melayang, dan 296 orang luka-luka.

Jika dilihat, pola letusan Gunung Agung hampir sama tak hanya bersifat eksplosif memuntahkan lava pijar, abu vulkanik dan bebatuan. Namun juga efusif berupa aliran awan panas dan aliran lava.

Kini 54 tahun berselang, status Gunung Agung kembali awas, namun semoga saja letusannya tak sampai merenggut korban jiwa.

Banyak geolog dan vulkanolog di Indonesia yang khawatir begitu mengetahui Gunung Agung yang telah 54 tahun tertidur ini kembali bangun pada pertengahan September 2017.

Salah satunya adalah ahli gunung api yang juga mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Gunung Api (PVMBG) Surono.

”Di antara banyak gunung api lain di Indonesia, Gunung Agung merupakan yang paling saya takutkan jika meletus lagi. Ini gunung besar dengan letusan besar, dengan sejarah letusan tahun 1963 yang lebih besar dibandingkan letusan Merapi tahun 2010,” kata Surono.

Tingginya risiko bencana dari letusan Gunung Agung ini, menurut Surono, tidak hanya karena sejarah kekuatan letusannya.

Namun, juga karena banyaknya penduduk yang tinggal di zona bahaya. ”Banyaknya korban letusan 1963 saat itu salah satunya juga karena sebagian warga menolak diungsikan,” katanya

Sumber: Liputan6.com, tribunnews.com, serunik.com, British Pathé

Click to comment
KOMENTAR ANDA
Advertisement