Connect with us

Analisis

Inilah Bukti Keganasan Hoax Yang Disebarkan Oleh Biksu Ashin Wirathu

Published

on

Inilah Bukti Keganasan Hoax Yang Disebarkan Oleh Biksu Ashin WirathuSemenjak pecah konflik etnis Budha - Muslim di Mayanmar, nama Biku Ashin Wirathu menjadi sangat terkenal di seluruh dunia. Bukan...

Semenjak pecah konflik etnis Budha – Muslim di Mayanmar, nama Biku Ashin Wirathu menjadi sangat terkenal di seluruh dunia. Bukan terkenal karena kebaikannya, namun terkenal karena kebiadaban dan kebengisannya pada etnis minoritas muslim Rohingya.

Padahal, Biksu Buddha di Myanmar seharusnya menjadi simbol harapan dan pembangkangan selama tahun-tahun kegelapan kediktatoran militer Myanmar. Tapi saat negara ini membuka diri terhadap dunia, beberapa biksu papan atas diantaranya telah mengambil sikap sektarian yang sangat radikal.

Sejak 2012, kekerasan terus berlanjut dan telah menghancurkan lebih dari 150.000 anggota minoritas Muslim di Myanmar tersebut. Dan pada bulan Juli 2014, massa Budha menyerang rumah dan kompleks bisnis minoritas Muslim Rohingya di kota terbesar kedua di Myanmar, yaitu Mandalay.

Dipicu oleh rumor yang tidak berdasar bahwa seorang pria Muslim telah memperkosa seorang wanita Budhis, mereka menjadi semakin beringas karena dikompori oleh Ashin Wirathu, pemimpin sebuah vihara besar, yang mengirimkan rumor atau hoax tersebut ke akun Facebook-nya. Dua orang terbunuh, diantaranya seorang Muslim dan seorang Buddhis.

Semenjak inilah, minorits muslim Rohingya selalu dianiaya dan dibantai oleh mayoritas Budha Myanmar yang umumnya eskalasi konflik para militan Budha ini dibantu oleh aparat polisi dan militer pemerintah Myanmar. Sebuah pertarungan yang sangat berat sebelah, dan minoritas muslim Rohingya banyak yang dibantai ataupun diusir dari tanah kelahirannya akibat konflik sektarian yang tak kunjung berhenti sampai dengan sekarang.

Reporter Jason Motlagh pergi ke Myanmar untuk menemui Wirathu dan mencari tahu mengapa praktisi sebuah agama yang dikenal dengan konsep belas kasihan telah berubah menjadi akar yang memicu kebencian sektarian.

Sumber: Al Jazeera AJ+ Docs

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply