Connect with us

Fiksi

Harus Mulai Belajar Mengemudikan Biduk Kecil Mulai Dari Sekarang

Published

on

Harus Mulai Belajar Mengemudikan Biduk Kecil Mulai Dari Sekarang

Berawal dari belajar mensyukuri sakit, dan inilah berbagai berkah dan hikmahnya

Awalnya sih, saya ini menganggap sakit dan berbagai cobaan lainnya sebagai teguran dan cobaan dari Yang Di Atas. Berlalunya waktu, dan setelah googling dan membaca-baca banyak artikel, ternyata saya harus ikhlas dan justru harus bersyukur, karena sakit itu dapat menghapus sebagian dari dosa-dosa kita. Kok kayaknya jadi munafik banget ya?

Bayangkan saja ketika dosa-dosa kita yang bertumpuk harus di adili dan kita bayar semuanya di akhirat. pastilah tak terhitung jumlahnya. Hukumannya pasti akan teramat sangat pedih. Banyak hadits bertebaran yang menjelaskannya. Saya bukan ahlinya untuk menyitir ayat maupun Hadist. Jadi ya saya akan menjelaskannya secara sederhana, bahwa setidaknya segala hal ini membuat hati saya menjadi merasa jauh lebih tenang dan nyaman.


Kok bisa menjadi jauh mebih tenang dan nyaman? Nah, sakit dan berbagai cobaaan akhir-akhir ini secara tidak langsung mengerem bahkan mencegah saya untuk menumpuk dosa-dosa tambahan. Dalam bahasa jawanya, semakin “gembelengan” dan nggak ingat kalau sewaktu-waktu nyawa bisa dicabut serta merta.

Hal lainnya yang paling pasti, saya menjadi jauh lebih dekat dengan keluarga, baik secara lahir maupun batin. Bayangkan kalau masih segar bugar, saya pasti akan kelayapan kemana-mana, dan terkadang nggak jelas juntrungnya.

Sakit dan berbagai cobaan akhir-akhir ini, membuat saya untuk semakin mengoptimalkan energi agar fokus berfikir bagi kelangsungan hidup keluarga. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit, tiang penyangga cadangan bagi kelangsungan hidup keluarga, mulai tertata agak rapi dan mulai kelihatan bentuk struktur konstruksinya di masa depan.

Berbagai cobaan akhir-akhir ini juga membangkitkan talenta kami yang lainnya untuk belajar berdagang walaupun kelasnya masih kecil-kecilan. Jadi nggak melulu hanya mengandalkan kemampuan fisik dan otak saya saja. Intuisi dalam berdagang kecil-kecilan juga mulai terasah dengan sendirinya secara otomatis.

Satu hal lagi yang patut saya syukuri adalah kesadaran keluarga bahwa saya sebagai tiang utama rumah tangga mulai goyah dan retak di sana sini, lapuk dan nyaris dapat dipastikan akan segera roboh. Hal ini membuat kami menjadi lebih kuat dalam menyatukan energi keluarga, agar secara total rumah tangga kami tidak runtuh tiba-tiba.

Terutama istri, Mytha mulai semakin bekerja keras untuk membesarkan warung kecil kami. Harapan saya, semoga saja Uma dan Satya akan menyusul untuk mau belajar ikut membantu menopang bangunan rumah tangga, minimal ikut meringankan beban keluarga.

Nah disinilah saya mulai melihat berkah lain yang nyaris tidak pernah saya lihat semasa masih segar bugar. Ini adalah sesuatu hikmah keluarga dibalik kondisi tiang utama rumah tangga mulai lemah, lapuk dan rapuh. Apalagi dibarengi dengan berbagai cobaan akhir-akhir ini, Insya Allah keluarga akan semakin solid. 

Laman: 1 2

Continue Reading
Advertisement
Comments

Fiksi

Subuh Ini Miauw Salah Satu Kucing Kesayangan, Juga Ikut Mati Sebagaimana Po Induknya

Published

on

By

Miauw salah satu kucing kesayangan juga mati subuh tadi
Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Miauw atau kalau saya sering memanggilnya Kuntet Njekluthet, salah satu kucing kesayangan ikut mati sebagaimana Po si Anggora Putih yang cantik dan anggun yang mati beberapa hari yang lalu. Keduanya mati tepat menjelang waktu sholat subuh.

Nama Miauw adalah nama yang diberikan oleh Mytha, sementara saya memanggilnya Kuntet Njlekuthet karena waktu dia masih kecil sering meloloskan diri dari kandang induknya dan nimbrung tiba-tiba ketika kami sedang ngobrol di ruang keluarga. Saya sebut Kuntet karena tubuhnya yang paling kecil diantara saudaranya.


Miauw wajahnya lucu, matanya sayu, dan kalau sedang diajak bercanda oleh Satya si bungsu, aktif dan lucunya luar biasa. Miauw adalah kucing termuda dan tubuhnya terkecil diantara semua kucing kesayangan kami.

Selamat jalan Miauw atau Kuntet Njlekuthet. Semoga kamu bisa menemani Po, dan tetap bersama indukmu. Miauw kami sangat kehilangan atas kematianmu subuh tadi.

Continue Reading

Fiksi

Mengenang Po Salah Satu Kucing Kesayangan Keluarga Kami

Published

on

By

Po Salah Satu Kucing Kesayangan Mati Subuh Tadi
Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Po adalah salah satu kucing kesayangan keluarga kami. Po sifatnya sangat manja kepada kami sekeluarga. Walaupun terkadang terkesan galak dan garang kepada kucing lainnya, sebenarnya Po memiliki sifat asli yang sangat sayang kepada anak-anaknya.

Po suaranya cenderung lirih nyaris tak terdengar ketika mengeong. Untuk itu, kadang Po memukul-mukul tempat minumnya ketika sedang ingin menarik perhatian kami.


Terkadang hal ini membuat saya lumayan bete, namun ketika menatap wajah cantiknya yang polos, ke-bete-an saya luruh seketika. Paling saya hanya ngomel-ngomel sembari menurunkan tempat minumnya dari kandang.

Po sakit dan mulai tidak mau makan sejak kemarin. Hari ini sebenarnya kami rencanakan untuk dibawa ke dokter hewan, namun sayangnya subuh tadi Po tidak tertolong lagi.

Sejak siang kemarin, Po dipisahkan ke kandang sendiri dan dihangatkan menggunakan lampu. Malam harinya dimasukkan ke ruang keluarga dan sudah dicoba di suapi makanan dan minuman oleh Mytha dengan menggunakan pipet kecil.

Semalam Mytha pun tidur di samping kandang Po untuk mengawasi perkembangan kondisi kesehatan Po. Nampaknya Po lebih memilih lebih cepat meninggalkan kami sekeluarga, sebelum kami upayakan untuk penanganan kesehatannya yang lebih representatif ke dokter hewan siang ini.

Saya kaget ketika mau mengambil air wudhu untuk subuhan, mendengar suara Po yang merintih agak keras dan mendengar isak tangis Mytha. Ternyata itu adalah suara Po yang terakhir kalinya dan sekaligus tarikan nafas terakhir Po.

Wudhu saya tunda sekejab untuk menengok kondisi Po. Ternyata Po nampak kejang,  ada dipelukan Mytha dengan diselimuti handuk kecil, dan Mytha pun nampak terisak-isak tidak dapat menahan haru.

Saya tanpa sadar pun menitikkan air mata. Segera saya bergegas mengambil air wudhu untuk subuhan sembari menyembunyikan bahwa sayapun ikut menangisi kepergian Po kucing kesayangan kami sekeluarga. Tanpa sadar, saat sholat subuh tadi air mata saya pun mengalir lagi. Untung saya subuhan di dalam kamar sehingga nggak ada yang tahu.

Selamat jalan Po, si Anggora putih nan anggun dan cantik. Po, kamu adalah salah satu kucing kesayangan kami sekeluarga dan sudah menjadi bagian dari keluarga kami.

Continue Reading

Fiksi

Mencoba Menikmati Hidup dan Menurunkan Rekening Dosa Sampai Saat-Saat Terakhir

Published

on

By

Mencoba Menikmati Hidup dan Menurunkan Rekening Dosa Sampai Saat-Saat Terakhir
Sumber Gambar: Youtube.com

Saat ini, saya berusaha untuk menikmati hidup dan menurunkan rekening dosa sampai saat-saat terakhir. Masalah kapan saat terakhir tersebut tiba, hanya Allah yang tahu.

Dengan kondisi kesehatan yang mudah berantakan dan karir serta impian yang nyaris tenggelam secara keseluruhan, saya berusaha mengoptimalkan kesempatan yang diberikan oleh Nya untuk hal-hal yang menyenangkan bagi saya. Selain itu, saya berusaha untuk selalu curhat sekaligus memohon ampunan kepada Nya agar setidaknya beban rekening dosa saya dikurangi.


Impian apapun tentang dunia, saya berusaha keras untuk mengabaikan secara keseluruhan. Saya mencoba untuk mengalir mengikuti arus dimana Dia mengarahkan saya harus kemana dan bermuara dimana.

Sisa hidup ini akan saya nikmati sampai saatnya nanti tiba. Hobi mancing mulai saya aktifkan lagi. Kalau tidak bisa di Laut, Sungai ataupun Danau (Wild Fishing), dikolam harian pun sangat saya syukuri.

Continue Reading

Trending