Ketika MUI Merasa Jaksa Penuntut Ahok Mendelegitimasi Produk Hukum MUI | Jejaring
Fakta & Peristiwa

Ketika MUI Merasa Jaksa Penuntut Ahok Mendelegitimasi Produk Hukum MUI

5 stars 89 Votes Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengaku kecewa terhadap jaksa penuntut umum dalam kasus penistaan agama, dengan terdakwa Ahok yang hanya menuntut...

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengaku kecewa terhadap jaksa penuntut umum dalam kasus penistaan agama, dengan terdakwa Ahok yang hanya menuntut satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun.

“Kami dari MUI sangat menyayangkan tuntutan jaksa. Kenapa jaksa tidak menerapkan hukum yang sebenarnya?” kata Wakil Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI, Ikhsan Abdullah, dalam diskusi bertajuk “Ahok, Jaksa dan Palu Hakim”, di Jakarta, Sabtu.

More:   Awas, 10 Makanan Bisa Membunuhmu!

Menurut Ikhsan Abdullah, tuntutan jaksa penuntut umum tidak tepat karena jaksa tidak menggunakan Pasal 156 (a) sebagai dasar tuntutannya yang ancaman pidananya maksimal lima tahun penjara, tapi jaksa malah memilih menggunakan Pasal 156.

Ikhsan Abdullah menambahkan bahwa tuntutan JPU telah mengabaikan fatwa MUI yang menyatakan Basuki telah menistakan agama.

“Ini sekaligus mendelegitimasi produk hukum yang dikeluarkan MUI,” lanjut Ikhsan Abdullah. (Antaranews, Sabtu, 29 April 2017).

More:   Inna Lillahi Wainna Ilaihi Raji'un, Telah Berpulang KH. Hasyim Muzadi

Sebelumnya jaksa menuntut majelis hakim menjatuhkan pidana penjara satu tahun dengan masa percobaan dua tahun kepada Basuki karena menilai pria yang akrab disapa Ahok itu terbukti melanggar rumusan unsur pidana sebagaimana tertuang dalam Pasal 156 KUHP.

Menurut ketentuan itu, barang siapa di muka umum menyatakan perasaan bermusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

More:   Mahfud MD - SBY Turut Bertanggungjawab Atas Kasus Korupsi Patrialis Akbar

Ahok menjadi terdakwa perkara penodaan agama setelah video pidatonya di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016, ketika dia menyebut adanya pihak yang menggunakan Alquran Surat Al-Maidah 51 untuk membohongi, beredar dan memicu serangkaian aksi besar dari organisasi-organisasi massa Islam.

Sumber: Antaranews.com; Sumber Gambar: Okezone.com

 
Perlu Untuk Anda tonton tayangan menarik berikut Ini:

   
 

KOMENTAR ANDA

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan Jejaring.net. Dilarang berkomentar berbau iklan, pornografi, pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Jejaring.net berhak untuk menghapus segala bentuk unggahan yang berbau iklan, pornografi, pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan.

Comments

TERPOPULER MINGGU INI

To Top