Connect with us

Fiksi

Tidak Semua Orang Ingin Jadi Raja

Published

on

Semar, walaupun seorang yang memiliki ke-waskitha-an yang sulit dicari tandingannya, memiliki aurora dewa ngejowantah, namun lebih suka berpenampilan buruk rupa, dengan tampilan tidak elok, dan hanya tinggal di padepokan kecil bernama Karang Kadempel.

Semar lebih memilih menjadi punokawan. Semar lebih suka momong ketimbang berkuasa.


Jangankan manusia walapun sekelas satria, raja ataupun pandhita, termasuk manusia setengah dewa sekelas Bathara Khrisnapun juga bukan tandingan Semar. Bahkan, bilamana perlu, Kahyangan sekalipun juga bisa diobrak-abrik oleh Semar ketika dipancing kemurkaannya.

Nyaris semua satria yang dimong oleh Semar, pasti jadi satriyo pinunjul ataupun Raja Binathoro yang sangat kuat. Apakah dengan demikian Semar pernah menarik keuntungan dari posisi bendoronya tersebut? Tidak. Semar pasti akan lebih memilih untuk kembali ke Padepokan kecilnya yang bernama Karang Kadempel.

Dalam urusan politik, Semar nyaris tidak pernah terlihat berperan apapun oleh publik. Namun dalam urusan kawaskithan, nyaris semua satriya besar berguru dan mendengarkan semua omongannya. Nasehat Semar sangat kecil kemungkinan di abaikan oleh para Satriyo ataupun Raja.

Semar tidak pernah terlalu peduli dengan asesoris apapun. Semar tidak dapat ditundukkan dengan iming-iming. Semar jelas tidak akan berperilaku oportunis. Semar hanya mau mengabdi pada Satriyo yang benar dan atau trah yang sahih.

Tidak semua orang ingin jadi Raja. Salah satu contoh dalam kisah pewayangan adalah Semar. Kewaskithaannya sangat kuat, namun lebih memilih hanya menjadi pamomong saja.

Click to comment
KOMENTAR ANDA
Advertisement