Connect with us

Fiksi

Prajurit Yang Baik Itu Siap Laksanakan

Published

on

Sebagai prajurit yg baik itu harus selalu “siap laksanakan”. Nggak usah banyak bertanya apalagi kebanyakan usul. Nggak usah sok pinter apalagi menggurui komandan. Intinya, yang boleh dan wajib mikir hanya komandan dan prajurit harus “siap laksanakan”.

Itulah yang saya ajarkan pada anak-anak dan sahabat-sahabat saya. Jika ingin jadi prajurit, maka jadi prajuritlah yang baik dan benar. Nggak usah terlalu kebanyakan mikir apalagi usul.


Jika ingin jadi komandan, maka banyak-banyaklah belajar, asah kemampuan terbaik, banyak-banyaklah juga belajar untuk berfikir secara metodologis dengan baik dan benar. Banyak-banyaklah belajar leadership, asah kekuatan dan ketajaman mata batin, dan selaraskan dengan garis komando yang kalian ingin bentang tegakkan.

Kalau kalian ingin menjadi panglima, maka asahlah tidak sekedar kemampuan metodologis, mata batin, namun juga pertajam dan pekakan semua sisi-sisi humanismemu. ini syarat mutlak sebagai panglima untuk harus belajar peka terhadap kondisi lingkungan agar tidak salah langkah dan salah mengambil keputusan besar kepada semua elemen pasukan.

Apalagi jika ingin menjadi senopati besar (Senopati Agung). Ini adalah kedudukan yang nyaris sejajar dengan kedudukan raja dalam medan laga yang sesungguhnya. Senopati besar adalah wakil resmi raja di medan perang yang sangat besar pula. Senopati besar inilah yang bertanggungjawab untuk menegakkan panji-panji kerajaan.

Panji-panji kerajaan saja nggak paham, mengenalinya juga belum, apalagi disuruh untuk memilih panji-panji mana yang harus dibawa dan ditegakkan di medan laga. Parahnya, membedakan antara panji-panji, rontek umbul-umbul, dan kelebet saja nggak bisa. Ya jangan berani-berani mengajukan diri sebagai senopati besar. Maksimal ya jadi inspektur upacara saja.

Kemampuan metodologis, strategis, ketajaman mata batin terhadap lingkungan medan perang, kemampuan untuk menggerakkan pasukan, kemampuan pengenalan dengan baik kekuatan pasukan musuh, kemampuan memanfaatkan semua peralatan perang sesederhana apapun juga harus dimiliki dengan lengkap.

Surat sakti dari raja saja tidaklah cukup. Demikian juga jubah perang, rontek umbul-umbul, jumlah pasukan yang besar, apalagi dengan sekedar dibekali pengetahuan teori-teori perang dimasa lalu. Kalian harus memiliki ahli-ahli strategi perang yang mumpuni dan panglima perang yang benar-benar battle proven.

Kesaktian Pandawa tidak ada apa-apanya dalam perang Bharatayudha tanpa peran kejeniusan dan kedahsyatan olah pikir dan rasa dari Sri Bathara Kresno. Sutowijoyo tidak akan pernah ada apa-apanya ketika melawan Adipati Jipang tanpa kedahsyatan leadership Juru Mertani, kecerdikan dan kejeniusan Pemanahan, serta keperwiraan Ki Penjawi.

Jika semua kemampuan itu tidak dapat kalian lengkapi, jangan pernah bermimpi menjadi komandan, panglima, senopati besar, apalagi sebagai raja gung binathara. Cukuplah menjadi prajurit yang “siap laksanakan” atau dalam bahasa modern saat ini disebut “Sami’na waatho’na”. Atau maksimal bercita-citalah menjadi komandan regu (Danru) saja.

Click to comment
KOMENTAR ANDA
Advertisement