Mendesain Situs Nyaris Murni teks, Namun Kontennya Full Multimedia Itu Nggak Mudah | Jejaring
Edukasi

Mendesain Situs Nyaris Murni teks, Namun Kontennya Full Multimedia Itu Nggak Mudah

5 stars 102 Votes Logikanya harusnya lebih mudah khan? Nggak semudah yang dibayangkan. Tata letak, pemilhan warna, dan menguhidari penggunaan google font bukanlah pekerjaan...

Logikanya harusnya lebih mudah khan? Nggak semudah yang dibayangkan. Tata letak, pemilhan warna, dan menguhidari penggunaan google font bukanlah pekerjaan yang mudah.

Kalau membuat tampilan situs yang kaya gambar, huruf yang ngejreng ala Google Font, itu sudah sangat biasa dan relatif lebih mudah. Tinggal pasang sana-sini, dan tarrra…raaaa, jadilah tampilan situs yang warna warni dan terkadang ngejreng luar biasa.

Nah disinilah letak tantangan tersulitnya. Membuat situs nyaris murni teks, hanya logo yang berupa gambar png, dan paling konten multi media berupa video dengan custom player sendiri, ya sempat membuat kepala saya nyut-nyutan.

Hal ini saya buat sebenarnya karena alasan baru ada permasalahan di cash flow saya. Semua fasilitas server vps harus di downgrade. Nah berarti dengan fasilitas vps yang super minimalis, saya harus putar otak sedemikian rupa agar masih mudah dibuka, lancar ketika di akses, dan tidak lemot ketika diputar videonya.

Seharian saya berdebat lama dengan Mytha sebagai anak desain interior yang bertanggungjawab dalam desain tampilan situs. Mytha harus maklum bahwa kondisi keuangan saya sedang bermasalah, sehingga beberapa fasilitas situs harus juga dipangkas habis.

Gambar dan sejenisnya harus saya buang ke laut, dan sekarang harus berubah ke dalam bentuk konsep murni teks yang nyaman dilihat, tidak mengorbankan konten, namun harus sesuai dengan ukuran kantong saya yang mulai menipis.

Namanya juga anak desain interior, ya jelas tampilannya harus yahud dan berdasarkan pendekatan konsep tampilan dalam sudut pandang keahliannya. Srebaliknya, saya yang dalam kondisi ini berkonsep ekonomis, ya maunya sesederhana mungkin, namun pemasukan tetap lancar.

Mytah berfikir bahwa kesederhanaan tampilan membuat situs tidak menarik, apalagi ada kanal resep, budaya dan chords yang jelas serba grafis. Saya berpandangan bahwa konten grafis tersebut toh bisa dilihat dalam tampilan videonya.

Mytha berpendapat bahwa thumbnail berbentuk gambar yang indah akan memoengaruhi orang untuk melihat lebih dalam ke dalam konten yang dimaksud. Masuk akal sih. Saya berpendapat, jika konten dan keyword adalah menjadi kunci utama agar orang mau menengok ke situs-situs kita.

Akhirnya, kita dapatkan kesepakatan bahwa kalau toh fasilitas grafis dibuang, maka warna harus benar-benar yang secara teoritis harus menarik. Secara dia memang belajar lama dalam teori warna sih.

ya sudah, karena ini merupakan titik temu yang menurut saya terbaik antara kantong kempis, ampilan situs dan kelangsungan hidup kami, ya saya sepakat.

Terpaksa, saya harus ngubek-ubek teori warna. Untungnya saya dapat alat bantu dari Color Wheel Adobe. Akhirnya ya desainnya seperti yang Anda lihat saat ini.

 
Perlu Untuk Anda tonton tayangan menarik berikut Ini:

 
 

KOMENTAR ANDA

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan Jejaring.net. Dilarang berkomentar berbau iklan, pornografi, pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Jejaring.net berhak untuk menghapus segala bentuk unggahan yang berbau iklan, pornografi, pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan.

Comments

TERPOPULER MINGGU INI

To Top