Connect with us

Peristiwa & Opini

Kita Hanya Dapat Berekspektasi, Sisanya Bukan Urusan Kita Lagi

Diunggah:

on

TV STREAMING

Sebagai makhluk yang bernama manusia, kita memang diperbolehkan berekspektasi dan memang begitulah yang menjadi kodrat kita. Dengan ekspektasi, maka kita berusaha mengukur kira-kira langkah logis kita mengenai capaian harapan kita di masa depan.

Namanya saja makhluk, ya sedahsyat-dahsyatnya kemampuan metodologi ekspektasi kita ya ada batasannya. kita harus sadar sepenuhnya bahwa apapun metodologi untuk mencapai ekspektasi kita dimasa depan sangat tergantung pada variabel-variabel yang seringkali tidak mungkin dapat kita kendalikan sepenuhnya.

Kalau hubungannya dengan urusan berbagai variabel yang tidak mungkin kita kendalikan, ya biarlah Sang Maha Pengendali dan Maha Penentu yang mengambil alih pengawalan ekspektasi kita. Pada tataran urusan dalam maslah ini, kita sebagai manusia hanya dapat memohon pada ridho Nya.

Ekspektasi yang kita buat, akan memacu kita untuk selalu berfikir dan berusaha sekeras mungkin agar ekspektasi tersebut benar-benar dapat kita raih. Namun, tanpa ridho Nya, semuanya dijamin menjadi mustahil.

Kenapa saya menggunakan kata ekspektasi ketimbang angan ataupun impian. Sekilas nampak sama, namun secara filosofis berbeda jauh.

Pendekatannya sangat berbeda jauh. Ekspektasi adalah dugaan masa depan yang menggunakan data masa lalu yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara metodologis, sementara impian dan angan semata kadang tidak disertai dan didasari dengan konsep metodologis untuk mencapai harapan tersebut.

Nah, sebagai makhluk yang di karuniai akal sehat, saya lebih suka menggunakan pendekatan ekspektasi ketimbang impian atau angan semata. jadi, gunakanlah ekspektasi, dan sisanya serahkan pada Sang Maha Penentu semua hasil akhir.

Advertisement
Click to comment
KOMENTAR ANDA
Jejaring.net tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana yang diatur dalam UU ITE.
Advertisement