Jatuhnya Aleppo Adalah Kemunduran Kebijakan Intervensi AS | Jejaring
Analisis

Jatuhnya Aleppo Adalah Kemunduran Kebijakan Intervensi AS

Pada akhir 2016, dengan pengorbanan banyak nyawa pemuda, pasukan Suriah berhasil merebut kembali bagian timur kota Aleppo, yang sebelumnya dikuasai oleh pemberontak Suriah dukungan NATO dan sekutu Arab selama lebih dari empat tahun.

Pembebasan Aleppo, kota kedua terbesar Suriah dan sebuah situs kuno bersejarah, merupakan kemunduran paling serius agresi dipimpin Washingtondi seluruh kawasan tersebut. Sebuah rekolonisasi efektif daerah telah membentang dari Afghanistan ke Libya, di bawah berbagai alasan yang dicari-cari. Invasi dengan perang proxy yang telah didukung oleh sanksi ekonomi dan propaganda media yang sangat brutal.

Namun, perang besar berbentuk agresi yang disebut demi untuk penciptaan ‘Timur Tengah Baru’ oleh mantan Presiden AS George W. Bush – telah membentur batu sandungan yang sangat keras di Suriah. Pasukan proxy yang sangat besar yang dibeli dan dibekali oleh Washington dan sekutu regional Saudi, Turki, Qatar dan Israel, telah dipukuli mundur oleh aliansi regional yang kuat yang mendukung bangsa Suriah.

Jatuhnya Aleppo yang juga terbukti melibatkan beberapa agen-agen asing membuktikan bahwa perang proxy telah benar-benar terjadi di SUriah. AS khususnya berusaha keras untuk mengamankan pembebasan mereka dengan segala cara, karena kehadiran mereka adalah bukti lebih lanjut adanya komando asing pada apa yang mereka klaim sebagai ‘perang saudara’.

More:   Secara Resmi, Pemerintah Telah Membubarkan HTI

Setelah badai disinformasi pemerintah Barat dan Media (klaim dari pembantaian, eksekusi massal dan ‘warga sipil yang ditargetkan’) selama evakuasi dari sekitar 100.000 warga sipil dan ribuan teroris, Dewan Keamanan PBB akhirnya secara resmi menyetuji keterlibatan beberapa pengamat independen untuk memantau proses evakuasi tersebut. Untungnya, sebagian besar warga Aleppo timur telah berhasil di evakuasi. Pemukiman kembali hidup dan rekonstruksi juga sudah berlangsung, serta cadangan militer telah dipanggil kembali untuk memperkuat pertahanan kota Aleppo.

Cerita apokaliptik ala Barat dihembuskan oleh media Barat secara sengaja untuk membentuk opini dunia. Misalnya, pernyataan yang keluar dari Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon, sekutu dekat Washington, yang menyatakan bahwa ‘Aleppo sekarang menjadi sinonim dari neraka’. Ternyata akhirnya terbukti bahwa klaim tersebut hanya didasarkan pada cerita dari para pemberontak dukungan NATO yang sedang berputus asa.

More:   Menunggu Langkah Erdogan Selanjutnya, Setelah AS Mempersenjatai YPG

Wartawan independen di lapangan mengatakan cerita yang berbeda. Pasukan Suriah berhasil menghancurkan garis kekuatan pertahanan milisi pemberontak afiliasi al Qaeda di Suriah, dan akhirnya warga sipil yang terperangkap berhasil mengalir keluar. Mereka menerbitkan bukti video adanya  kerumunan panjang warga yang berhasil meninggalkan Aleppo timur dan menemukan perlindungan, bantuan, makanan dan tempat tinggal ketika bertemu dengan Tentara Suriah.

Lelah dan lega, mereka menceritakan kisah mereka kepada siapa saja yang peduli untuk mendengarkan. Aliansi Suriah ternyata telah memberi mereka banyak bantuan makanan, pakaian, selimut dan bantuan tempat tinggal. Sebaliknya, negara-negara barat umumnya terbukti tak memberikan apa-apa, sementara kelompok pemberontak justru menolak semua bantuan dari aliansi Suriah.

Warga sipil sebenarnya dilarang meninggalkan kantong wilayah pertahanan al Qaeda, banyak yang ditembak mati oleh milisi pemberontak ketika mereka mencoba untuk melakukannya. Ironisnya, pemberontak bersenjata justru terbukti memiliki cadangan makanan melimpah, namun menyimpannya hanya untuk para pejuang mereka.

Kekuatan Al Qaeda di Aleppo praktis sudah hancur. Semua kelompok bersenjata anti pemerintah Suriah di Aleppo dibawah kendali kekuatan afiliasi al Qaeda di Suriah (Jabhat al Nusra alias Jaysh Fateh al Sham) berhasil dilemahkan.

More:   Ketika Ahok Sudah Patah Arang Di Dunia Politik

Sebagian besar media Barat, yang mencerminkan pemerintah mereka, nampak enggan melaporkan kejadian sebenarnya tentang ‘jatuhnya Aleppo’ ke tangan pemerintah Suriah. Kemenangan militer Suriah atas kelompok al Qaeda adalah tragedi besar bagi media Barat. Di sisi lain, upaya ISIS untuk merebut kembali Palmyra, justru dilaporkan berbeda. mereka bahkan cenderung melaporkan bahwa Palmyra telah ‘direbut kembali’ leh ISIS.

Semua ini menggarisbawahi apa yang seharusnya menjadi titik jelas, diakui ataupun tidak oleh banyak pejabat AS, bahwa setiap kelompok bersenjata di Suriah (apakah yang berbentuk ‘moderat’ atau ‘ekstrimis’) terbukti telah dpersenjatai dan dibiayai oleh AS dan sekutunya, dalam upaya untuk menggulingkan pemerintah yang syah di Suriah. Semua pembicaraan tentang ‘pemberontak moderat’, sebuah ‘rezim brutal’ dan ‘perang saudara’ hanya mencoba untuk menyembunyikan fakta bahwa AS dan sekutunya telah gagal dalam agresi perang proxy di Suriah.

 
Perlu Untuk Anda tonton tayangan menarik berikut Ini:

   
 

KOMENTAR ANDA

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan Jejaring.net. Dilarang berkomentar berbau iklan, pornografi, pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Jejaring.net berhak untuk menghapus segala bentuk unggahan yang berbau iklan, pornografi, pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan.

Comments

TERPOPULER MINGGU INI

To Top