Connect with us

Fiksi

Sarung Kakek Yang Membuat Kami Merasa Nyaman

Published

on

Sarung ini adalah sekedar sarung biasa kesayangan kakek saya tercinta. Tidak ada sedikitpun keinginan bagi kami sekeluarga untuk mengkultuskannya.

Sejak saya kecil, saya masing sangat mengingat betapa sarung ini sering menyelimuti saya ketika saya sedang kedinginan. Kakek dengan sangat hati-hati dan penuh rasa sayang, menyelimuti saya menjelang sehabis tengah malam, ketika beliau bersiap sholat malam dan dilanjutkan ke sholat subuh.


Bahkan, ketika anak pertama saya (Mytha) lahir, sarung ini pulalah yang selalu setia menyelimutinya saat itu, karena memang kondisi kami sekeluarga sangat tidak memungkinkan untuk kuat membeli selimut bayi. Kakek merelakan sarung kesayangan beliau untuk dipakai menyelimuti Mytha yang masih orok. Kakek begitu sangat menyayangi Mytha, sehingga kalau menggendongnya sampai rangkep-rangkep. Selain diselimuti ibunya, Kakek juga menutupi tubuh Mytha dengan selendang sampai brukut.

Sampai sekarang, ketika saya pun menjelang kakek-kakek, bahkan baru sabtu kemarin, ketika kesehatan saya dalam kondisi sangat lemah, sarung inipun dalam kondisi setengah sadar saya raih dan kupeluk erat. Seolah saya rasakan kehadiran Kakek yang sejak dulu menemaniku dalam kondisi saya sakit, lemah, dan terpuruk. Hanya Kakek dan Nenek tercinta yang saat itu begitu setia dan sayang kepada Saya dalam kondisi apapun. Hanya beliau berdua yang begitu kelihatan matanya berbinar dengan tulus dan ikhlas ketika ada capaian tertentu dalam hidup saya.

Sarung biasa yang dibeli Kakek dari Pasar Kliwon Kudus, ketika saya masih sekitar kelas 2 SD, tetap saya jaga dan setia menemani saya. Ini hanyalah sarung biasa, bukan sarung bertuah. Hanya saja kehadirannya membuat hatiku sangat nyaman dan tenang, seolah saya kembali ditemani oleh Kakek tercinta.

Hanya Kakek lah tempat saya mengadu, berlindung dan bersandar waktu itu. Tubuh rentanya kelihatan teramat gagah, kokoh dan ngayomi luar biasa. Senyumnya membuat hatiku serasa menjadi sejuk, dalam kondisi apapun.

Continue Reading
Advertisement
Comments

Fiksi

Subuh Ini Miauw Salah Satu Kucing Kesayangan, Juga Ikut Mati Sebagaimana Po Induknya

Published

on

By

Miauw salah satu kucing kesayangan juga mati subuh tadi
Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Miauw atau kalau saya sering memanggilnya Kuntet Njekluthet, salah satu kucing kesayangan ikut mati sebagaimana Po si Anggora Putih yang cantik dan anggun yang mati beberapa hari yang lalu. Keduanya mati tepat menjelang waktu sholat subuh.

Nama Miauw adalah nama yang diberikan oleh Mytha, sementara saya memanggilnya Kuntet Njlekuthet karena waktu dia masih kecil sering meloloskan diri dari kandang induknya dan nimbrung tiba-tiba ketika kami sedang ngobrol di ruang keluarga. Saya sebut Kuntet karena tubuhnya yang paling kecil diantara saudaranya.


Miauw wajahnya lucu, matanya sayu, dan kalau sedang diajak bercanda oleh Satya si bungsu, aktif dan lucunya luar biasa. Miauw adalah kucing termuda dan tubuhnya terkecil diantara semua kucing kesayangan kami.

Selamat jalan Miauw atau Kuntet Njlekuthet. Semoga kamu bisa menemani Po, dan tetap bersama indukmu. Miauw kami sangat kehilangan atas kematianmu subuh tadi.

Continue Reading

Fiksi

Mengenang Po Salah Satu Kucing Kesayangan Keluarga Kami

Published

on

By

Po Salah Satu Kucing Kesayangan Mati Subuh Tadi
Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Po adalah salah satu kucing kesayangan keluarga kami. Po sifatnya sangat manja kepada kami sekeluarga. Walaupun terkadang terkesan galak dan garang kepada kucing lainnya, sebenarnya Po memiliki sifat asli yang sangat sayang kepada anak-anaknya.

Po suaranya cenderung lirih nyaris tak terdengar ketika mengeong. Untuk itu, kadang Po memukul-mukul tempat minumnya ketika sedang ingin menarik perhatian kami.


Terkadang hal ini membuat saya lumayan bete, namun ketika menatap wajah cantiknya yang polos, ke-bete-an saya luruh seketika. Paling saya hanya ngomel-ngomel sembari menurunkan tempat minumnya dari kandang.

Po sakit dan mulai tidak mau makan sejak kemarin. Hari ini sebenarnya kami rencanakan untuk dibawa ke dokter hewan, namun sayangnya subuh tadi Po tidak tertolong lagi.

Sejak siang kemarin, Po dipisahkan ke kandang sendiri dan dihangatkan menggunakan lampu. Malam harinya dimasukkan ke ruang keluarga dan sudah dicoba di suapi makanan dan minuman oleh Mytha dengan menggunakan pipet kecil.

Semalam Mytha pun tidur di samping kandang Po untuk mengawasi perkembangan kondisi kesehatan Po. Nampaknya Po lebih memilih lebih cepat meninggalkan kami sekeluarga, sebelum kami upayakan untuk penanganan kesehatannya yang lebih representatif ke dokter hewan siang ini.

Saya kaget ketika mau mengambil air wudhu untuk subuhan, mendengar suara Po yang merintih agak keras dan mendengar isak tangis Mytha. Ternyata itu adalah suara Po yang terakhir kalinya dan sekaligus tarikan nafas terakhir Po.

Wudhu saya tunda sekejab untuk menengok kondisi Po. Ternyata Po nampak kejang,  ada dipelukan Mytha dengan diselimuti handuk kecil, dan Mytha pun nampak terisak-isak tidak dapat menahan haru.

Saya tanpa sadar pun menitikkan air mata. Segera saya bergegas mengambil air wudhu untuk subuhan sembari menyembunyikan bahwa sayapun ikut menangisi kepergian Po kucing kesayangan kami sekeluarga. Tanpa sadar, saat sholat subuh tadi air mata saya pun mengalir lagi. Untung saya subuhan di dalam kamar sehingga nggak ada yang tahu.

Selamat jalan Po, si Anggora putih nan anggun dan cantik. Po, kamu adalah salah satu kucing kesayangan kami sekeluarga dan sudah menjadi bagian dari keluarga kami.

Continue Reading

Fiksi

Mencoba Menikmati Hidup dan Menurunkan Rekening Dosa Sampai Saat-Saat Terakhir

Published

on

By

Mencoba Menikmati Hidup dan Menurunkan Rekening Dosa Sampai Saat-Saat Terakhir
Sumber Gambar: Youtube.com

Saat ini, saya berusaha untuk menikmati hidup dan menurunkan rekening dosa sampai saat-saat terakhir. Masalah kapan saat terakhir tersebut tiba, hanya Allah yang tahu.

Dengan kondisi kesehatan yang mudah berantakan dan karir serta impian yang nyaris tenggelam secara keseluruhan, saya berusaha mengoptimalkan kesempatan yang diberikan oleh Nya untuk hal-hal yang menyenangkan bagi saya. Selain itu, saya berusaha untuk selalu curhat sekaligus memohon ampunan kepada Nya agar setidaknya beban rekening dosa saya dikurangi.


Impian apapun tentang dunia, saya berusaha keras untuk mengabaikan secara keseluruhan. Saya mencoba untuk mengalir mengikuti arus dimana Dia mengarahkan saya harus kemana dan bermuara dimana.

Sisa hidup ini akan saya nikmati sampai saatnya nanti tiba. Hobi mancing mulai saya aktifkan lagi. Kalau tidak bisa di Laut, Sungai ataupun Danau (Wild Fishing), dikolam harian pun sangat saya syukuri.

Continue Reading

Trending