Connect with us

Fiksi

Ketika Hanya Kakek Yang Mengapresiasi Semua Capaian Saya

Published

on

Ketika awal masuk SD, saya sebenarnya minder berat. Nyaris, semua teman memiliki pakaian dan perlengkapan sekolah yang jauh lebih bagus. Diantar oleh Nenek daftar ke SD Mlati Kidul Kudus, kami jalan kaki lumayan jauh dari Asem Batur. Lewat selokan kecil sebelah selatan desa, kemudian menuju ke Karetan yang kebetulan SD saya tersebut terletak diutara karetan.

Ketika semua masih belajar mengeja “ini ibu budi”, alhamdulillah, saya sudah mampu membacanya dengan lancar jauh lebih bagus ketimbang teman-teman lainnya. Hal itu cukup mengurangi perasaan minder saya. Kakeklah yang mengajariku sejak sebelum masuk SD tentang bagaimana membaca yang baik bahkan cara menulis halus yang indah. Bahkan beliaulah juga yang mengajari saya menggambar yang indah, membaca Arab Gundul (pegon), huruf jawa, dan bahkan berbagai ilmu logika. Sedangkan nenek, banyak juga mengajarai saya menyenandungkan macapat dengan cengkok yang benar. Saya masih ingat betapa sulitnya menembangkan Durma saat itu, karena cengkoknya yang cukup berat, dan harus dihayati maknanya dengan baik. Bahkan diwaktu kecil, saya pun banyak diajarkan berbagai rasa seni, filsafat kehidupan yang kadang melalui berbagai dongeng beliau menjelang tidur.


Nyaris jarang yang tahu di lingkungan saya saat ini yang tahu persis apa saja yang dapat saya lakukan. Jarang yang tahu bahwa selain kemampuan logika saya yang kuat dan kebetulan diasah oleh Kakek sejak dini, saya juga memiliki kemampuan menyanyi dan jiwa seni lainnya yang cukup bagus.

Di desa saya, jarang yang tahu bahwa saya ini langganan juara kelas sampai dengan SMA. Jangankan tetangga di desa, bahkan Ortu saja nggak tahu kalau saya ini langganan juara kelas. Saking rapatnya saya menyimpan, saking tertanamnya filosofi hidup kakek di batin saya, sampai sekarangpun saya masih pintar dan rapat dalam menyembunyikan banyak hal tentang segala hal yang dapat saya lakukan.

Dari semua hal capaian kecil tersebut diatas, membuat saya bangga, namun Kakek selalu mengingatkan saya untuk dapat mengendalikan diri dan tidak mudah terjebak oleh kebanggaan diri yang berlebihan. Hal inilah yang sampai sekarang membentuk karakter saya dan membuat saya tidak mudah menunjukkan kemampuan diri kepada setiap orang.

Ketika itu, hanya Kakek yang mampu mengapresiasi semua capaian saya dengan tulus, ikhlas dan bijak. Semua capaian harus dianggap bukan sekedar sebagai kehebatan diri, namun harus disadari dengan baik bahwa itu semua hanyalah hadiah dari Allah yang Maha dalam segala hal. Kita ini hanya sekedar kecipratan sedikit Nur Nya. Kita hanya boleh bersyukur, tanpa harus merasa diri kita demikian terlalu hebat.

Continue Reading
Advertisement
Comments

Fiksi

Subuh Ini Miauw Salah Satu Kucing Kesayangan, Juga Ikut Mati Sebagaimana Po Induknya

Published

on

By

Miauw salah satu kucing kesayangan juga mati subuh tadi
Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Miauw atau kalau saya sering memanggilnya Kuntet Njekluthet, salah satu kucing kesayangan ikut mati sebagaimana Po si Anggora Putih yang cantik dan anggun yang mati beberapa hari yang lalu. Keduanya mati tepat menjelang waktu sholat subuh.

Nama Miauw adalah nama yang diberikan oleh Mytha, sementara saya memanggilnya Kuntet Njlekuthet karena waktu dia masih kecil sering meloloskan diri dari kandang induknya dan nimbrung tiba-tiba ketika kami sedang ngobrol di ruang keluarga. Saya sebut Kuntet karena tubuhnya yang paling kecil diantara saudaranya.


Miauw wajahnya lucu, matanya sayu, dan kalau sedang diajak bercanda oleh Satya si bungsu, aktif dan lucunya luar biasa. Miauw adalah kucing termuda dan tubuhnya terkecil diantara semua kucing kesayangan kami.

Selamat jalan Miauw atau Kuntet Njlekuthet. Semoga kamu bisa menemani Po, dan tetap bersama indukmu. Miauw kami sangat kehilangan atas kematianmu subuh tadi.

Continue Reading

Fiksi

Mengenang Po Salah Satu Kucing Kesayangan Keluarga Kami

Published

on

By

Po Salah Satu Kucing Kesayangan Mati Subuh Tadi
Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Po adalah salah satu kucing kesayangan keluarga kami. Po sifatnya sangat manja kepada kami sekeluarga. Walaupun terkadang terkesan galak dan garang kepada kucing lainnya, sebenarnya Po memiliki sifat asli yang sangat sayang kepada anak-anaknya.

Po suaranya cenderung lirih nyaris tak terdengar ketika mengeong. Untuk itu, kadang Po memukul-mukul tempat minumnya ketika sedang ingin menarik perhatian kami.


Terkadang hal ini membuat saya lumayan bete, namun ketika menatap wajah cantiknya yang polos, ke-bete-an saya luruh seketika. Paling saya hanya ngomel-ngomel sembari menurunkan tempat minumnya dari kandang.

Po sakit dan mulai tidak mau makan sejak kemarin. Hari ini sebenarnya kami rencanakan untuk dibawa ke dokter hewan, namun sayangnya subuh tadi Po tidak tertolong lagi.

Sejak siang kemarin, Po dipisahkan ke kandang sendiri dan dihangatkan menggunakan lampu. Malam harinya dimasukkan ke ruang keluarga dan sudah dicoba di suapi makanan dan minuman oleh Mytha dengan menggunakan pipet kecil.

Semalam Mytha pun tidur di samping kandang Po untuk mengawasi perkembangan kondisi kesehatan Po. Nampaknya Po lebih memilih lebih cepat meninggalkan kami sekeluarga, sebelum kami upayakan untuk penanganan kesehatannya yang lebih representatif ke dokter hewan siang ini.

Saya kaget ketika mau mengambil air wudhu untuk subuhan, mendengar suara Po yang merintih agak keras dan mendengar isak tangis Mytha. Ternyata itu adalah suara Po yang terakhir kalinya dan sekaligus tarikan nafas terakhir Po.

Wudhu saya tunda sekejab untuk menengok kondisi Po. Ternyata Po nampak kejang,  ada dipelukan Mytha dengan diselimuti handuk kecil, dan Mytha pun nampak terisak-isak tidak dapat menahan haru.

Saya tanpa sadar pun menitikkan air mata. Segera saya bergegas mengambil air wudhu untuk subuhan sembari menyembunyikan bahwa sayapun ikut menangisi kepergian Po kucing kesayangan kami sekeluarga. Tanpa sadar, saat sholat subuh tadi air mata saya pun mengalir lagi. Untung saya subuhan di dalam kamar sehingga nggak ada yang tahu.

Selamat jalan Po, si Anggora putih nan anggun dan cantik. Po, kamu adalah salah satu kucing kesayangan kami sekeluarga dan sudah menjadi bagian dari keluarga kami.

Continue Reading

Fiksi

Mencoba Menikmati Hidup dan Menurunkan Rekening Dosa Sampai Saat-Saat Terakhir

Published

on

By

Mencoba Menikmati Hidup dan Menurunkan Rekening Dosa Sampai Saat-Saat Terakhir
Sumber Gambar: Youtube.com

Saat ini, saya berusaha untuk menikmati hidup dan menurunkan rekening dosa sampai saat-saat terakhir. Masalah kapan saat terakhir tersebut tiba, hanya Allah yang tahu.

Dengan kondisi kesehatan yang mudah berantakan dan karir serta impian yang nyaris tenggelam secara keseluruhan, saya berusaha mengoptimalkan kesempatan yang diberikan oleh Nya untuk hal-hal yang menyenangkan bagi saya. Selain itu, saya berusaha untuk selalu curhat sekaligus memohon ampunan kepada Nya agar setidaknya beban rekening dosa saya dikurangi.


Impian apapun tentang dunia, saya berusaha keras untuk mengabaikan secara keseluruhan. Saya mencoba untuk mengalir mengikuti arus dimana Dia mengarahkan saya harus kemana dan bermuara dimana.

Sisa hidup ini akan saya nikmati sampai saatnya nanti tiba. Hobi mancing mulai saya aktifkan lagi. Kalau tidak bisa di Laut, Sungai ataupun Danau (Wild Fishing), dikolam harian pun sangat saya syukuri.

Continue Reading

Trending