Ke-wisdom-an Saya Masih Belum Cukup | Jejaring
Fiksi & Diary

Ke-wisdom-an Saya Masih Belum Cukup

Saya seringkali mendapatkan pertanyaan seperti itu dari beberapa teman maupun pimpinan. Bahkan pagi tadi saya berbincang dengan dua orang pimpinan yang satunya sudah profesor dan satunya lagi sedang mengurus Profesornya. Keduanya sekali lagi kurang lebih menanyakan hal yang sama. Saya selalu hanya bisa menjawab dengan tersenyum kecut, “belum maqom saya”.

Sejujurnya, bagi saya yang paling tepat adalah jawaban tersebut. Satu hal yang paling menghantui saya adalah bukan permasalahan teknis namun level ke-wisdom-an saya yang saya sadari masih sangat rendah. Masih mudah untuk disulut ego dan kemarahannya. Ini bukan hanya sekedar pemanis bibir, namun memang begitulah saya. Walaupun banyak orang yang memanggil saya sebagai “Mbahwo”, namun ke-Embah-an saya masih belum layak untuk disebut sebagai Embah yang sebenarnya. Masih terlalu banyak sisi-sisi kekanakan saya yang tanpa perlu malu untuk saya akui. Arogansi, keakuan, dan sejenisnya masih sering meletup tanpa sadar dari semua sikap keseharian saya. Dalam tanda kutip, saya ini Embah yang masih level KW3.

More:   Makasih Sekali, Pak Sugeng Atas Empati & Pertolongan Njenengan

Dalam pendapat saya pribadi, gelar Profesor bukan sekedar menunjukkan level puncak dan kemewahan akademik (pinjam istilahnya Prof. Wardjono). Profesor harus dapat menunjukkan level ke-begawan-an yang benar-benar sidik ing paningal. Tidak hanya menunjukkan superioritas kemampuan akademisnya saja, namun seorang Profesor harus mampu Sung Tulodho, Ajur-ajer dan Mangun karsa, Handayani entah ketika tut wuri ataupun ketika Hing ngarso.

Beberapa sesepuh maupun pimpinan yang ada di organisasi saya, ya memang cukup pantas untuk mencapai kedudukan tersebut karena memang sudah teruji mampu mengatasi masalah yang rumit dalam membesarkan organisasi kami ini dari mulai cindhil abang sampai dengan sekarang sudah berani tegak dan bersaing dengan organisasi lainnya. Itu tidak hanya sekedar masalah kemampuan teknis saja yang dibutuhkan. Daya tahan, keikhlasan, wisdom dalam organisasi, kerja keras dan terutama langkah nyata merealisasikan harapan itu bukanlah sesuatu yang mudah. Presisi terhadap semua kalkulasi kebijakan itu harus akurat, karena dengan dukungan sumberdaya yang terbatas di organisasi, kesalahan kebijakan bisa mengakibatkan kiamat bagi organisasi.

More:   Bahagianya Dikunjungi Teman-Teman Alumni SMP 2 Rembang Angkatan 83
 

Halaman: 1 2

Perlu Untuk Anda tonton tayangan menarik berikut Ini:

   
 

KOMENTAR ANDA

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan Jejaring.net. Dilarang berkomentar berbau iklan, pornografi, pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Jejaring.net berhak untuk menghapus segala bentuk unggahan yang berbau iklan, pornografi, pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan.

Comments

TERPOPULER MINGGU INI

To Top