Connect with us

Fiksi

Tanpa Ruang

Published

on

\”Kok Bapak jarang sekali ngantor sih? Khan konon katanya Bapak sekarang jadi pejabat?\” Begitu tanya Mytha ketika melihat kondisi kesehatan mulai pulih kembali.

Dengan santai saya jawab, \”Mau jawaban yang serius atau yang celelekan?\”


\”Ya yang serius lah. Khan saya juga pingin tahu ada apa sebenarnya?\” Tukas Mytha.

\”Yang pertama, saya memang baru mulai membaik kondisi kesehatan saya. Kedua, saya merasa sebagai pejabat super khusus\” Jawab Saya.

\”Lho kok bisa?\” Mytha semakin serius bertanya.

\”Sebagai pejabat, saya memang dikhususkan untuk tidak usah diberi fasilitas sebagaimana kolega pejabat lainnya. Jangankan cuma tikar, lha wong ruang saja sampai sekarang nggak gableg. Sama Pakdhemu Carik saja jauh lebih keren Beliau. Bapakmu ini lebih tepatnya hanya pejabat sekelas Ketua RT. Lha karena gak ada ruangan serta seisinya, terus saya mau kerja kayak apa? Lha kalau cuma sekelas RT, ya pekerjaannya tak sambi saja dari rumah toh. Yang penting wayahe nyetempel jika ada yang mau ngurus KTP, surat nikah atau dll Saya lakukan dengan baik. Wayahe Pak Dukuh ngopyak-opyak kerja bakti, ya Saya ikut ngopyak-opyak. Nggak usah pakai putar otak segala.\”

\”Lha kenapa gak minta ruang sebagaimana mestinya? Khan Bapak juga harus mendapatkan fasilitas setara dengan pejabat lainnya?\” Mytha mulai memahami alasan Saya dan mencoba berargumentasi.

\”Saya ini sudah minta sampai juweh, cuma dijawab sama yang kawogan nanti…nanti… dan nanti. Apa ya Bapakmu ini tega kamu suruh minta-minta, sambil pasang wajah memelas dan prembik-prembik. Khan saru banget.\” Jawab Saya.

\”Lha terus, apa akan begini terus?\” Tanya Mytha penuh selidik.

\”Ya ambil sisi positifnya. Gara-gara nggak ada ruang, Bapak khan jadi lebih nyantai. Nggak perlu mlithit ke kantor, wong nggak punya kantor. Disamping itu. Bapak juga bisa segera midhik-midhik untuk cari peluang lainnya. Yang penting kendhile Mbokmu nggak nggoling.\” Jawab Saya.

\”Iya..ya Pak. Apapun namanya juga kawulo ya harus manut sama Boss. Pokoke pahit, getir, pedes, manis ya diemplok saja. Daripada nanti dianggap biang protes, lebay, dan bahkan dicopot jabatannya khan ciloko. nanti kita makan apa coba. Dinggo genep-genepan yo ra popo.\” jawab Mytha sembari berlalu melanjutkan pekerjaannya nyapu tritisan.

 

Continue Reading
Advertisement
Comments

Fiksi

Subuh Ini Miauw Salah Satu Kucing Kesayangan, Juga Ikut Mati Sebagaimana Po Induknya

Published

on

By

Miauw salah satu kucing kesayangan juga mati subuh tadi
Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Miauw atau kalau saya sering memanggilnya Kuntet Njekluthet, salah satu kucing kesayangan ikut mati sebagaimana Po si Anggora Putih yang cantik dan anggun yang mati beberapa hari yang lalu. Keduanya mati tepat menjelang waktu sholat subuh.

Nama Miauw adalah nama yang diberikan oleh Mytha, sementara saya memanggilnya Kuntet Njlekuthet karena waktu dia masih kecil sering meloloskan diri dari kandang induknya dan nimbrung tiba-tiba ketika kami sedang ngobrol di ruang keluarga. Saya sebut Kuntet karena tubuhnya yang paling kecil diantara saudaranya.


Miauw wajahnya lucu, matanya sayu, dan kalau sedang diajak bercanda oleh Satya si bungsu, aktif dan lucunya luar biasa. Miauw adalah kucing termuda dan tubuhnya terkecil diantara semua kucing kesayangan kami.

Selamat jalan Miauw atau Kuntet Njlekuthet. Semoga kamu bisa menemani Po, dan tetap bersama indukmu. Miauw kami sangat kehilangan atas kematianmu subuh tadi.

Continue Reading

Fiksi

Mengenang Po Salah Satu Kucing Kesayangan Keluarga Kami

Published

on

By

Po Salah Satu Kucing Kesayangan Mati Subuh Tadi
Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Po adalah salah satu kucing kesayangan keluarga kami. Po sifatnya sangat manja kepada kami sekeluarga. Walaupun terkadang terkesan galak dan garang kepada kucing lainnya, sebenarnya Po memiliki sifat asli yang sangat sayang kepada anak-anaknya.

Po suaranya cenderung lirih nyaris tak terdengar ketika mengeong. Untuk itu, kadang Po memukul-mukul tempat minumnya ketika sedang ingin menarik perhatian kami.


Terkadang hal ini membuat saya lumayan bete, namun ketika menatap wajah cantiknya yang polos, ke-bete-an saya luruh seketika. Paling saya hanya ngomel-ngomel sembari menurunkan tempat minumnya dari kandang.

Po sakit dan mulai tidak mau makan sejak kemarin. Hari ini sebenarnya kami rencanakan untuk dibawa ke dokter hewan, namun sayangnya subuh tadi Po tidak tertolong lagi.

Sejak siang kemarin, Po dipisahkan ke kandang sendiri dan dihangatkan menggunakan lampu. Malam harinya dimasukkan ke ruang keluarga dan sudah dicoba di suapi makanan dan minuman oleh Mytha dengan menggunakan pipet kecil.

Semalam Mytha pun tidur di samping kandang Po untuk mengawasi perkembangan kondisi kesehatan Po. Nampaknya Po lebih memilih lebih cepat meninggalkan kami sekeluarga, sebelum kami upayakan untuk penanganan kesehatannya yang lebih representatif ke dokter hewan siang ini.

Saya kaget ketika mau mengambil air wudhu untuk subuhan, mendengar suara Po yang merintih agak keras dan mendengar isak tangis Mytha. Ternyata itu adalah suara Po yang terakhir kalinya dan sekaligus tarikan nafas terakhir Po.

Wudhu saya tunda sekejab untuk menengok kondisi Po. Ternyata Po nampak kejang,  ada dipelukan Mytha dengan diselimuti handuk kecil, dan Mytha pun nampak terisak-isak tidak dapat menahan haru.

Saya tanpa sadar pun menitikkan air mata. Segera saya bergegas mengambil air wudhu untuk subuhan sembari menyembunyikan bahwa sayapun ikut menangisi kepergian Po kucing kesayangan kami sekeluarga. Tanpa sadar, saat sholat subuh tadi air mata saya pun mengalir lagi. Untung saya subuhan di dalam kamar sehingga nggak ada yang tahu.

Selamat jalan Po, si Anggora putih nan anggun dan cantik. Po, kamu adalah salah satu kucing kesayangan kami sekeluarga dan sudah menjadi bagian dari keluarga kami.

Continue Reading

Fiksi

Mencoba Menikmati Hidup dan Menurunkan Rekening Dosa Sampai Saat-Saat Terakhir

Published

on

By

Mencoba Menikmati Hidup dan Menurunkan Rekening Dosa Sampai Saat-Saat Terakhir
Sumber Gambar: Youtube.com

Saat ini, saya berusaha untuk menikmati hidup dan menurunkan rekening dosa sampai saat-saat terakhir. Masalah kapan saat terakhir tersebut tiba, hanya Allah yang tahu.

Dengan kondisi kesehatan yang mudah berantakan dan karir serta impian yang nyaris tenggelam secara keseluruhan, saya berusaha mengoptimalkan kesempatan yang diberikan oleh Nya untuk hal-hal yang menyenangkan bagi saya. Selain itu, saya berusaha untuk selalu curhat sekaligus memohon ampunan kepada Nya agar setidaknya beban rekening dosa saya dikurangi.


Impian apapun tentang dunia, saya berusaha keras untuk mengabaikan secara keseluruhan. Saya mencoba untuk mengalir mengikuti arus dimana Dia mengarahkan saya harus kemana dan bermuara dimana.

Sisa hidup ini akan saya nikmati sampai saatnya nanti tiba. Hobi mancing mulai saya aktifkan lagi. Kalau tidak bisa di Laut, Sungai ataupun Danau (Wild Fishing), dikolam harian pun sangat saya syukuri.

Continue Reading

Trending