Connect with us

Fiksi

Saya Bukan Pekerja Keras

Published

on

Jujur saja, saya ini bukan tipe manusia pekerja keras. Bagi saya, bekerja dengan keras sebenarnya sama sekali tidak pas bagi kemampuan fisik saya. Otot saya sejak kecil kurang methekol, nggak ada pawakan sama sekali untuk berbodi seperti Rambo. Makanya saya sama sekali tidak suka bekerja keras.

Saya lebih menikmati sebagai orang yang bekerja lemas. Saya suka sekali berlama-lama memikirkan sesuatu untuk memecahkan suatu masalah sampai tubuh terasa lemas. Itu bisa saya lakukan berjam-jam. Setelahnya, segera saya lakukan eksekusi tindakan. Semuanya kalau bisa harus terukur dan semua kemungkinan error harus diminalisir sejak awal.


Saya juga bukan tipe pekerja yang seneng grudag-grudug dan asal kelihatan ramai. Bagi saya, grudag-grudug justru lebih menonjolkan satu bentuk tindakan yang kurang efisien dan cenderung mengandalkan okol ketimbang akal. Bahkan salah-salah bisa menciptakan gesekan yang tidak perlu baik antar kelompok maupun antar individu didalam kelompok. Grudag-grudug itu sendiri akan cenderung lebih grusa-grusu, dan dalam pewayangan itu seperti tingkah polah kaum kurawa.

Dalam bekerja, saya lebih menyukai tim kecil yang solid dan memiliki kemampuan handal. Saya lebih menyukai presisi dan penetrasi yang tajam ketimbang asal hantam dan bombardir sembarangan (carpet bombing). Dengan hasil kerja yang sama, tim kecil akan kelihatan lebih manis daripada tim yang besar dan kelebihan bobot.

Saya juga bukan tipe pekerja kolosal, dimana sebelum bekerja, seolah sudah terlalu gegap gempita dan cenderung berisik. Belum berangkat kerja saja sudah terlalu boros menghabiskan energi. Saya lebih suka membidikkan anak panah yang menghunjam kedalam sasaran yang paling vital dengan sekali tembak. Tidak dengan model dibandhemi nggak karu-karuan. Sasarannya ya memang bisa saja kena, namun akan membuat ngos-ngosan tim pembandem dan butuh batu atau benda keras yang amat banyak. Bahkan, kalau anggota timnya terlalu bersemangat dan gak paham dimana sasarannya, malah bisa balik mbandhemi kita.

Semua pekerjaan yang saya tangani, banyak mengandalkan presisi dan bekerja dalam diam. Akurasi, kecepatan, efisiensi, dan hasilnya bisa saya rasakan. Masalah orang lain menganggap saya bukanlah team leader yang baik, biarin saja. Bagi saya, team leader yang baik adalah leader yang mampu memilih dan mengkoordinir pasukannya dengan baik dan mampu mencapai ataupun memecahkan masalah dengan akurasi tinggi dengan menggunakan energi yang sangat efisien.

Team leader itu tidak sama dengan team cheerleader yang pekerjaannya cenderung heboh sebelum ada hasilnya, dan sok sibuk sorak-sorak nggak karuan yang sebenarnya gak peduli apakah timnya menang atau justru kalah telak dalam pertandingan.

Click to comment
KOMENTAR ANDA
Advertisement