Connect with us

Fiksi

Niat Saja Tidak Cukup

Published

on

Untuk memparipurnakan satu tujuan, niat saja tidak cukup.  Saya sengaja tidak menggunakan kata \”mencapai\” tujuan, namun lebih menyukai kata \”memparipurnakan\” tujuan. Bagi saya, mencapai tujuan saja bukanlah satu capaian yang hebat kalau tidak mampu memparipurnakan dengan baik.

Sebagai contoh, ketika kita ingin membuat organisasi yang disegani dalam bidang teknologi, maka tidak hanya kemasan labelnya saja yang diberi kata keramat \”Teknologi\”. Namun, didalamnya harus diparipurnakan sedemikian rupa bahwa keteknologian tersebut benar-benar menjadi roh utama dalam semua aspek organisasi yang benar-benar bisa dideteksi oleh kesemua indera dan juga akal sehat semua pihak yang berkepentingan pada organisasi bersangkutan. Sumberdaya manusia, infrastruktur, sistem sampai dengan budaya organisasi harusnya menunjukkan roh \”Keteknologian\” yang meresap kedalam darah dan reflek dari setiap denyut kehidupan organisasi.


Keteknologian tidak boleh hanya disematkan sebagai dogma organisasi yang halal jika hanya dilaksanakan demi gugur kewajiban, tetapi harus dimaknai secara menyeluruh sebagai landasan dasar kehidupan organisasi. Ibarat dogma yang telah kita pilih dalam kehidupan kita, tentunya sangat konyol jika hanya sekedar pernah baca Juz\’Amma, pernah belajar Iqra\’ terus merasa sudah kaffah dan paling alim dalam menuntaskan atau memparipurnakan pemahaman dan realisasi pelaksanaan dogma yang kita pilih.

Kalau levelnya hanya seperti itu, maksimal yang kita capai baru sekedar pada tataran niat. Bahkan kalau tidak pernah ada realisasi dan trend positif dalam pelaksanaannya, sebenarnya kita bisa masuk dalam kategori berkhayal, ngoyoworo. Bahkan, jika dogma tersebut kita gunakan demi penetrasi pasar, itu bisa masuk ke dalam kategori mengelabui batin kita sendiri, dan celakanya kita ini sadar atau tidak dapat dikategorikan khianat terhadap dogma yang kita pilih sendiri.

Memang dalam dogma kita, niat positif saja sudah dapat pahala. Tetapi, apakah kita akan berhenti pada tataran niat saja? Khianat? Atau kita ingin masuk dalam kategori makhluk yang berusaha keras memparipurnakan tujuan? Tentu saja tidak perlu dijawab dengan lisan. Waktu dan usaha keras ke arah paripurna itulah yang menjadi jawaban terbaik terhadap dogma yang kita pilih.

Continue Reading
Advertisement
Comments

Trending