Connect with us

Fiksi

Jangan Sampai Masjid Kita Seperti Masjid Dirar

Published

on

Kita pastilah masih ingat kisah Masjid Dirar dan Masjid Quba. Saya sendiri sangat suka dengan kisah yang terjadi pada seputaran masa Perang Tabuk ini. Mungkin agar kita mudah mengingatnya kembali, akan saya ceritakan kembali bagaimana kisah kedua Masjid ini.

Ketika pertamakali Rasulullah SAW dan Abu Bakar RA hijrah ke Madinah, masjid Quba adalah masjid sederhana yang pertamakali dikunjungi Beliau. Bahkan Rasulullah SAW beserta para sahabat sempat tinggal beberapa hari di sana, bahkan ikut serta membangunnya. Walapun sederhana, Masjid Quba yang didirikan oleh Bani Amr bin Auf ini begitu sangat dimuliakan oleh Allah sehingga termaktub dengan indah pada Surat At-Taubah 108. Bahkan menurut riwayat Hadits Tirmidzi, \”Melakukan shalat di dalam Masjid Quba sama dengan melakukan Umrah\”. Luar biasa mulia khan? Setelah menetap di Madinah, Rasulullah dan para sahabat baru membangun Masjid Nabawi yang kita kenal selama ini.


Terus bagaimana dengan Masjid Dirar? masjid ini didirikan oleh kaum munafik untuk menarik jamaah Masjid Quba, dan membuatnya sepi dari para jamaah. Masjid Dirar didirikan oleh Abu Amir Ar-Rahib dan teman-temannya para pendeta non-muslim lainnya dengan mendapatkan dukungan dana yang sangat kuat dari Romawi. Masjid ini didirikan bukan demi pertimbangan ketakwaan kepada Allah, namun guna kepentingan politis untuk mereduksi pengaruh Rasulullah SAW, dan memecah belah kaum muslim. Padahal saat itu sedang terjadi perang Tabuk dimana kekuatan kaum muslim yang tidak seberapa harus menghadapi kekuatan angkatan perang yang didukung oleh Romawi yang hampir mustahil dikalahkan oleh bangsa manapun di dunia saat itu.

Masjid Dirar dibangun sangat megah, penuh dengan fasilitas yang memberikan bantuan yang sangat menggurkan masyarakat sekitar, seperti fasilitas kesehatan, serta bantuan gratis lainnya. Sempat jamaah Masjid Quba tersedot ke Masjid Laknat yang didirikan oleh kaum munafik ini.

Namun, apapun namanya, jika semuanya didasarkan pada niatan yang tidak baik pastilah akan sampai pada waktu kehancurannya. Sepulang dari perang Tabuk, Rasullah mendapatkan wahyu dari Allah SWT sebagai berikut:

Janganlah kamu bersembahyang dalam Masjid itu selama-lamanya.  Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan (Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (At-Taubah 108-110).

Nah, terus apa hubungannya kisah tersebut dengan Masjid kita? Dari kisah luar biasa tersebut diatas, kita dapat mengambil pelajaran berharga yang bisa kita gunakan untuk merenung lebih dalam bahwa:

  1. Masjid dibangun atas dasar ketakwaan kepada Allah semata. Bukan untuk menunjukkan bahwa kita mampu membangun lebih megah daripada tetangga lingkungan kita.
  2. Masjid dibangun bukan untuk bermegah-megahan dan berlebih-lebihan. Msjid dibangun seharusnya untuk lebih memberikan kemanfaatan yang lebih besar kepada masyarakat sekitar, bukan justru menunjukkan bahwa bangunan masjid terlihat timpang dimana Masjidnya luar biasa megah, namun kehidupan masyarakat sekitar memprihatinkan.
  3. Masjid dibangun untuk menyatukan umat, bukan justru memecah-belah umat. Ingat, tidak ada yang lebih baik dimata Allah kecuali tingkat ketakwaan masing-masing. Jadi, jangan  coba-coba merasa lebih hebat daripada yang lain.

Click to comment
KOMENTAR ANDA
Advertisement