Connect with us

Fiksi

Cita-Cita Sederhana Saya Pada Masjid Kampung Kami

Published

on

Setiap waktu ketika saya singgah di masjid kampung saya, selalu saja terbayang pikiran nyleneh yang menggelayut di otak saya. Masjid, seharusnya bisa menjadi pusat kegiatan kemasyarakatan. Tempat dimana syiar dapat dilakukan dengan cara-cara positif dengan berbagai media yang ada. Masjid tidak boleh sepi pasca sholat jama\’ah dilakukan. 

Di Masjid Kampung saya ini (Il Sada\’um), saya bukanlah salah satu takmir, namun hanyalah salah satu Jamaah yang bahkan sangat jarang memakmurkan Masjid tersebut. Lebih seringnya, saya ini sekedar nunut ngeyup di Masjid Il Sada\’um. Namun, karena seringnya saya nunut ngeyup dan juga sering nongkrong (Mbambung) di Pos Ronda dekat Masjid, akhirnya kenal dengan para takmir yang ada di sana. Gelar saya saat ini juga sebagai Ketua Jamaah Permbambungan, ya wajar toh kalau saya juga sering Mbambung, nongkrong di Pos Ronda dan kadang-kadang nunut ngeyup di Masjid.

Seringkali terbayang di benak saya bahwa alangkah indahnya jika Masjid kampung saya ini dapat menjadi pusat dakwah yang cerdas. Dapat menghidupi diri sendiri tanpa menunggu uluran tangan para donatur. Kalaupun ada donatur yang berbaik hati untuk ikut serta mengembangkan Masjid, itu bukan semata-mata sebagai sumber kekuatan utama dalam pendanaan, namun sebagai penguat investasi positif jangka panjang bagi pengembangan Masjid.


Masjid tidak seharusnya hanya kelihatan megah dari luar. Saya sering bermimpi bahwa Masjid seharusnya dapat menjadi kekuatan utama kemasyarakatan yang bahkan mampu mensejahterakan masyarakat sekitar. Dapat menjadi pusat percontohan yang baik bagi pengembangan semua struktur sosial yang ada di kampung kami. Memiliki perpustakaan Islami yang kuat, memiliki broadcasting system dan teknologi informasi yang bagus. Memiliki fasilitas kesehatan, kegiatan ekonomi dan lembaga pendidikan usia dini yang bagus. 

Syi\’ar, afdolnya dilakukan secara holistik, dan mampu menyentuh kebutuhan masyarakat sekitar. Syi\’ar menjadi efektif ketika dapat menjawab tantangan jaman dengan baik tanpa meninggalkan kaidah keislaman yang kita pegang erat selama ini. Dimensi Syi\’ar bukan justru terjebak untuk membangun eksklusifitas, namun mampu merangkul dan menjangkau relung hati semua pihak.

Nah, kebetulan pas saya pulang dari luar kota, diberitahu sama Istri tersayang bahwa barusan Pakdhe Tarno mampir ke gubuk kami, namun sayangnya nggak sempat ketemu dengan saya karena tlisipan. Istri cuma cerita bahwa anjangsana Pakdhe ada hubungannya dengan pembangunan Masjid. Ya sudah, karena ada hubungannya dengan pembangunan masjid, setelah sepulang dari ngamen, saya sempatkan diri segera mampir ke Masjid.

E Lha, kok ndilalah ketemu sama salah satu takmir muda (Mas Warjo) dan Mas Tarjo yang kebetulan juga sering menjadi tim utama kegiatan pernongkrongan di Pos Ronda. Saat itu Mas Warjo sedang mengawasi sekalian kerja bakti pembangunan areal parkir Masjid. Ya sudah, pas Mas Warjo curhat tentang pengembangan Masjid, saya juga sekalian bisa curhat tentang cita-cita saya pada Masjid kami tersebut.

Gayung bersambut, akhirnya sore itu juga langsung kami rumuskan langkah bersama. Sampai menjelang subuh, kami harus menyiapkan segalanya. Karena mata saya sedang error, dengan terpaksa, mas Endi kami culik untuk membantu menjadi tukang ketik. Pakdhe Tarno hanya sempat menemani sampai jam dua belas, karena sudah kelihatan sekali mata beliau sinarnya sudah mulai meredup hanya mencapai sekitar 5 watt. Pak Tri juga demikian. Menjelang jam satu sudah pamitan undur diri. Tinggal kami bertiga yang bertahan sampai pagi.

Langkah pertama terselesaikan. Langkah berikutnya, segera saya harus hunting jejaring saya agar mendukung cita-cita kami. Pas kebetulan saat saya nongkrong di Pos Ronda bersama Mas Warjo dan kawan-kawan, Pak Nur dan Masjoen nelpon saya dari seberang lautan. Ya sudah sekalian saya ungkapkan saja cita-cita saya tentang pengembangan Masjid versi Jamaah Permbambungan. Ternyata mendapatkan tanggapan positif, dan menyatakan dukungannya. Langsung saat itu juga saya jadwalkan untuk ketemu dengan takmir hari minggu. Maklum, jadwal kami sama-sama padat. Tidak gampang untuk mencari jadwal luang yang bisa mempertemukan bersama.

Setelah acara bersama kami di Hotel Rich, beliau berdua saya culik untuk saya bawa ke Masjid, dan langsung mempertemukannya dengan para takmir. Alhamdulillah, langkah awal untuk membangun area parkir Masjid kami akan segera terealisasikan. Target pengembangan berikutnya, akan kami ikhtiarkan dengan disertai do\’a, usaha keras, niat baik, langkah cerdik dan yang menjadi kunci utama adalah ikhlas, ikhlas, dan ikhlas. 

Continue Reading
Advertisement
Comments

Fiksi

Subuh Ini Miauw Salah Satu Kucing Kesayangan, Juga Ikut Mati Sebagaimana Po Induknya

Published

on

By

Miauw salah satu kucing kesayangan juga mati subuh tadi
Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Miauw atau kalau saya sering memanggilnya Kuntet Njekluthet, salah satu kucing kesayangan ikut mati sebagaimana Po si Anggora Putih yang cantik dan anggun yang mati beberapa hari yang lalu. Keduanya mati tepat menjelang waktu sholat subuh.

Nama Miauw adalah nama yang diberikan oleh Mytha, sementara saya memanggilnya Kuntet Njlekuthet karena waktu dia masih kecil sering meloloskan diri dari kandang induknya dan nimbrung tiba-tiba ketika kami sedang ngobrol di ruang keluarga. Saya sebut Kuntet karena tubuhnya yang paling kecil diantara saudaranya.


Miauw wajahnya lucu, matanya sayu, dan kalau sedang diajak bercanda oleh Satya si bungsu, aktif dan lucunya luar biasa. Miauw adalah kucing termuda dan tubuhnya terkecil diantara semua kucing kesayangan kami.

Selamat jalan Miauw atau Kuntet Njlekuthet. Semoga kamu bisa menemani Po, dan tetap bersama indukmu. Miauw kami sangat kehilangan atas kematianmu subuh tadi.

Continue Reading

Fiksi

Mengenang Po Salah Satu Kucing Kesayangan Keluarga Kami

Published

on

By

Po Salah Satu Kucing Kesayangan Mati Subuh Tadi
Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Po adalah salah satu kucing kesayangan keluarga kami. Po sifatnya sangat manja kepada kami sekeluarga. Walaupun terkadang terkesan galak dan garang kepada kucing lainnya, sebenarnya Po memiliki sifat asli yang sangat sayang kepada anak-anaknya.

Po suaranya cenderung lirih nyaris tak terdengar ketika mengeong. Untuk itu, kadang Po memukul-mukul tempat minumnya ketika sedang ingin menarik perhatian kami.


Terkadang hal ini membuat saya lumayan bete, namun ketika menatap wajah cantiknya yang polos, ke-bete-an saya luruh seketika. Paling saya hanya ngomel-ngomel sembari menurunkan tempat minumnya dari kandang.

Po sakit dan mulai tidak mau makan sejak kemarin. Hari ini sebenarnya kami rencanakan untuk dibawa ke dokter hewan, namun sayangnya subuh tadi Po tidak tertolong lagi.

Sejak siang kemarin, Po dipisahkan ke kandang sendiri dan dihangatkan menggunakan lampu. Malam harinya dimasukkan ke ruang keluarga dan sudah dicoba di suapi makanan dan minuman oleh Mytha dengan menggunakan pipet kecil.

Semalam Mytha pun tidur di samping kandang Po untuk mengawasi perkembangan kondisi kesehatan Po. Nampaknya Po lebih memilih lebih cepat meninggalkan kami sekeluarga, sebelum kami upayakan untuk penanganan kesehatannya yang lebih representatif ke dokter hewan siang ini.

Saya kaget ketika mau mengambil air wudhu untuk subuhan, mendengar suara Po yang merintih agak keras dan mendengar isak tangis Mytha. Ternyata itu adalah suara Po yang terakhir kalinya dan sekaligus tarikan nafas terakhir Po.

Wudhu saya tunda sekejab untuk menengok kondisi Po. Ternyata Po nampak kejang,  ada dipelukan Mytha dengan diselimuti handuk kecil, dan Mytha pun nampak terisak-isak tidak dapat menahan haru.

Saya tanpa sadar pun menitikkan air mata. Segera saya bergegas mengambil air wudhu untuk subuhan sembari menyembunyikan bahwa sayapun ikut menangisi kepergian Po kucing kesayangan kami sekeluarga. Tanpa sadar, saat sholat subuh tadi air mata saya pun mengalir lagi. Untung saya subuhan di dalam kamar sehingga nggak ada yang tahu.

Selamat jalan Po, si Anggora putih nan anggun dan cantik. Po, kamu adalah salah satu kucing kesayangan kami sekeluarga dan sudah menjadi bagian dari keluarga kami.

Continue Reading

Fiksi

Mencoba Menikmati Hidup dan Menurunkan Rekening Dosa Sampai Saat-Saat Terakhir

Published

on

By

Mencoba Menikmati Hidup dan Menurunkan Rekening Dosa Sampai Saat-Saat Terakhir
Sumber Gambar: Youtube.com

Saat ini, saya berusaha untuk menikmati hidup dan menurunkan rekening dosa sampai saat-saat terakhir. Masalah kapan saat terakhir tersebut tiba, hanya Allah yang tahu.

Dengan kondisi kesehatan yang mudah berantakan dan karir serta impian yang nyaris tenggelam secara keseluruhan, saya berusaha mengoptimalkan kesempatan yang diberikan oleh Nya untuk hal-hal yang menyenangkan bagi saya. Selain itu, saya berusaha untuk selalu curhat sekaligus memohon ampunan kepada Nya agar setidaknya beban rekening dosa saya dikurangi.


Impian apapun tentang dunia, saya berusaha keras untuk mengabaikan secara keseluruhan. Saya mencoba untuk mengalir mengikuti arus dimana Dia mengarahkan saya harus kemana dan bermuara dimana.

Sisa hidup ini akan saya nikmati sampai saatnya nanti tiba. Hobi mancing mulai saya aktifkan lagi. Kalau tidak bisa di Laut, Sungai ataupun Danau (Wild Fishing), dikolam harian pun sangat saya syukuri.

Continue Reading

Trending