Connect with us

Fiksi

Bermegah-Megahan Dalam membangun Masjid

Published

on

Masjid menurut pendapat saya seharusnya menjadi tempat paling afdhol bagi semua muslim untuk berkeluh-kesah, berinteraksi batin dengan Sang Khalik, dan bersimpuh menyadari betapa kecilnya diri kaum muslim dihadapan Sang Maha Dari Segala Yang Agung. Masjid, bukanlah tempat yang justru digunakan untuk menunjukkan bahwa diri kita ini lebih dari yang lain dalam segala hal, bahkan dalam hal lebih hebat tingkatan ibadah kita sekalipun. 

Semangat untuk membangun masjid menurut pendapat saya tidak hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa kita memiliki tempat ibadah bila dibandingkan dengan kelompok ataupun kaum lainnya. Apalagi apabila didasari semangat bahwa masjid hanya merupakan proyek mercusuar yang entah kecil ataupun besar dilandasi sikap pamer bahwa lingkungan kita memiliki tempat ibadah yang lebih megah daripada lingkungan lainnya.


Semangat tersebut sama sekali sangat mencederai niat ikhlas kita dalam membangun masjid. Kita sejatinya bukan membangun masjid demi kepentingan umat, namun sebenarnya lebih didasari oleh sikap pamer kemampuan kita. Padahal rasulullah mengingatkan dengan sangat tegas:

Anas mengatakan, “Banyak orang yang akan bermegah-megahan dalam mendirikan masjid, tetapi mereka tidak memakmurkannya melainkan sedikit” [HR Bukhari]

Aku tidak menyuruh kamu membangun masjid untuk kemewahan (keindahan) sebagaimana yang dilakukan kaum Yahudi dan Nasrani. (HR. Ibnu Hibban dan Abu Dawud).

Benar, sekali bahwa Allah sangat menyukai keindahan, kebersihan dan kerapian. Tidak salah memang jika kita menghias dan memperindah Baitullah.

Rasulullah Saw menyuruh kita membangun masjid-masjid di daerah-daerah dan agar masjid-masjid itu dipelihara kebersihan dan keharumannya. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Namun perlu diingat, perilaku berlebih-lebihan, niatan pamer, bahkan pemborosan adalah perilaku yang sangat tidak disukai oleh Allah.

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” [Al Israa’:26-27]

Bahkan dalam menghias masjid pun, Khalifah Umar dengan tegas menyatakan bahwa keutamaan masjid adalah mampu memberikan perlindungan yang memadai bagi para jamaah ketika berjamaah, bukan menghiasnya berlebihan sehingga mengganggu kekhusukan ibadah kita.

Umar menyuruh membangun masjid dan berkata, “Lindungilah manusia (yang berjamaah di dalamnya) dari hujan. Jangan sekali-kali diwarnai merah atau kuning karena hal itu dapat menyebabkan orang-orang tergoda (tidak khusuk).” [HR Bukhari]

Masjid yang sederhana namun nyaman untuk dikunjungi, makmur, bersih, sehat, penuh dengan kegiatan syiar yang cerdas merupakan satu hal yang jauh lebih baik menurut saya ketimbang Masjid yang besar dan megah namun membuat kita menjadi sebagian umat yang suka menengadahkan muka, membusungkan dada dan lupa diri, apapun alasannya.

Click to comment
KOMENTAR ANDA
Advertisement